Selasa, 19 Desember 2023

Madah Kemuliaan Agama Gemilang (Ching-chiao 景教)

「在至上則榮歸上帝,在地則和平歸其所悅之人!」 “Di tempat mahatinggi kemuliaanlah bagi Shang-ti, dan di bumi kedamaianlah bagi orang yang diridaï-Nya!” —— Warta Bahagia menurut Lukas 《路加福音》 2: 14
Sebagai sebuah edisi modern, Kanon Taishō memasukkan banyak teks yang tidak terjumpaï dalam Tripiṭaka-Tripiṭaka tradisional yang dicetak di Cina. Teks-teks tersebut antara lain manuskrip-manuskrip kuno yang ditemukan di Tun-huang — biasanya yang memiliki nilai sejarah penting — yang isinya kadang berbau bidah atau malah non-Buddhis sama sekali. Salah satunya: manuskrip Pelliot 3847 yang dimuat sebagai T. № 2143, Ching-chiao san-wei mêng-tu tsan 《景教三威蒙度讚》 (‘Pujian Pemeroleh Keselamatan kepada Tiga Perbawa Agama Gemilang’). Ini adalah terjemahan Tionghoa madah terkenal Gloria in Excelsis Deo, dari versi yang digunakan oleh Agama Gemilang atau Kristianisme Suria Timur (Asyuria) yang tumbuh di wilayah Persia.

Gereja Persia sungguh merupakan Gereja Timur yang semula sebab cabang-cabang Kristianisme lain seluruhnya tumbuh dalam jajahan Imperium Romawi — walau sebagian di kemudian hari dilabeli “timur” juga (Gereja-Gereja Ortodoks Timur dan Ortodoks Oriental) oleh saudara Latin-nya yang berkembang lebih ke barat lagi. Gereja ini hanya menerima dua konsili ekumenis Kristen pertama dan menolak keputusan Konsili Efesus (431) untuk mencopot Nestorius, uskup Konstantinopel. Lantaran menggugat pandangan-pandangan ekstrem yang dituduhkan sepihak kepada Nestorius dan mempertanyakan ekskomunikasi yang dijatuhkan atasnya, skisma pun tidak terelakkan. Gereja Timur, yang sejak tahun 424 memang telah menyatakan diri independen — guna mematahkan prasangka antek asing oleh Pemerintah Persia —, akhirnya benar-benar putus hubungan dengan gereja-gereja lain dan dicemooh sebagai “Gereja Nestorian”. Katolikos yang bertakhta di Keuskupan Seleukia-Ktesifon secara resmi menjadi patriark barunya (namun tetap mempertahankan gelar katolikos).

Pada masa kejayaannya Gereja Timur merupakan gereja yang paling berpengaruh di seluruh dunia dan mempunyaï keuskupan-keuskupan yang tersebar hingga ke selatan Jazirah Arabia, ke sepanjang Pantai Malabar di India, ke seantero Asia Tengah, ke Cina dan Mongolia, bahkan konon sampai Kota Barus di Sumatra Utara. Pujian kepada Tiga Perbawa dialihbahasakan pada masa kejayaan tersebut di zaman T’ang. Penerjemahan teks-teks ke bahasa setempat tentu didasari kebutuhan jemaatnya — orang Tionghoa-Han tampaknya cukup banyak yang sudah berkonversi menjadi Kristen. Waktu itu rahib-rahib Persia sempat bekerjasama dengan bhikṣu-bhikṣu India sehingga terciptalah terjemahan unik yang mengandung istilah-istilah Buddhis, semisal dalam madah yang akan kita bahas ini.

Gereja Timur selanjutnya mulaï berakar di kalangan pribumi, yang terlihat dengan dibukanya keuskupan-keuskupan baru selain di ibukota. Akan tetapi, hal ini cuma berlangsung sesaat karena Kaisar T’ang Wu-tsung (memerintah 840–846) kemudian melakukan penganiayaan dan pengusiran terhadap semua agama asing (termasuk Buddhisme, Manikeisme, Zoroastrianisme). Sejak abad X tiada lagi kabar tentang Kristianisme Suria Timur di Cina, sampai aktivitasnya terdengar kembali pada zaman Yüan (Mongol).

Ritus Suria Timur, seperti Ritus-Ritus “timur” lainnya, melantunkan Gloria in Excelsis Deo saat ibadah subuh (Suryani ṣaprā, ܨܲܦܪܵܐ ; Yunani orthros, όρθρος ; Latin laudes). Kalimat pertama madah tersebut, yang diambil dari seruan para malaikat ketika kelahiran Yesus (Luk. 2: 14), dalam bahasa Suryani (Suria klasik) dialek timur berbunyi: “Tešboḥtā l-ālāhā bamrāwme ܬܸܫܒ݁ܘܿܚܬܐܵ ܠܐܲܠܵܗܵܐ ܒܲܡܪܵܘܡܹܐ.” Perkataan tešboḥtā (‘kemuliaan, kepujian’) lalu menjadi sebutan umum bagi lagu-lagu himne Ritus ini. Gloria in Excelsis Deo adalah tešboḥtā yang khusus dibawakan pada ṣaprā hari Minggu dan hari-hari raya (lihat hlm. 170–171 terjemahan ofisi harian Ritus Suria Timur di sini).

Begitu pula dalam Ritus Bizantin Gloria in Excelsis Deo merupakan doksologi penutup orthros, yang memiliki dua varian: besar (megali doxologia, μεγάλη δοξολογία) dan kecil (mikri doxologia, μικρή δοξολογία). Pada orthros hari Minggu doksologi besar dinyanyikan dengan bermelodi, sedangkan pada orthros hari-hari biasa doksologi kecil selaku penggantinya hanya dibacakan saja.

Dalam Ritus Romawi, sebaliknya, Gloria in Excelsis Deo tidak pernah dipanjatkan dalam ofisi harian, melainkan menjadi bagian dari liturgi misa. Madah yang khusus dinyanyikan pada misa hari Minggu (kecuali dalam periode Adven, Prapaskah, serta dalam misa rekuiem) dan hari-hari raya ini cuma memiliki satu bentuk, dan selalu dinamaï sebagai doksologi besar (doxologia major) meskipun jauh lebih singkat daripada versi Yunani. (Istilah Latin doxologia minor justru merujuk pada ayat pendek “Gloria Patri et Filio et Spiritui Sancto …” yang disisipkan di akhir pendarasan setiap mazmur.)

prasasti Hsi-an, Xi'an stele
Kembali ke teks kita, kita tidak tahu pasti apakah Pujian kepada Tiga Perbawa pernah benar-benar dipakai dalam ibadah resmi jemaat lokal — menggantikan tešboḥtā berbahasa Suryani — ataukah ia dialihbahasakan hanya demi memuaskan mereka yang sekadar ingin mengetahui artinya. Ia disebutkan dalam daftar di §2 yang memuat judul 30-an kitab Kristen yang, menurut kolofon, merupakan terjemahan Ching-ching 景淨 (‘Kekudusan Gemilang’). Ching-ching ialah seorang rahib yang menulis sejarah penyebaran Kristianisme Suria Timur antara 635–781 di Cina, yakni hingga tahun pembuatan prasasti tersohor Hsi-an di mana tulisannya itu dipahatkan (isi prasasti ini dapat dilihat di T. № 2144). Dalam prasasti bilingual ini, selain informasi Ta-ch’in szŭ sêng Ching-ching shu 大秦寺僧景淨述 ‘dituturkan oleh Ching-ching, rahib dari Biara Suria Agung’, nama aslinya juga tertera dalam aksara Suryani gundul:
ʾĀḏam qaššīšā w-kōreʾpīsqōpā w-papš‘ d-Ṣīnestān
ܐܕܡ ܩܫܝܫܐ ܘܟܘܪܐܦܝܣܩܘܦܐ ܘܦܐܦܫܝ ܕܨܝܢܝܣܬܐܢ
‘Adam, imam dan korepiskopos dan papas dari Sinistan’.
Gelar papas/paus mengindikasikan ia sepertinya menjadi primat bagi seluruh wilayah Cina (Sinistan, yang adalah istilah Persia; panggilan untuk negeri Cina dalam bahasa Suryani seharusnya Beth Ṣinaye).

Kaum Buddhis lebih mengenal Adam alias Ching-ching selaku interpretor yang membantu Tripiṭakācārya Prajña 般若三藏 (penerjemah Avataṃsaka XL) sewaktu ia datang pertama kali ke Cina. Kronologi selengkapnya tercatat di jilid 17 katalog Daftar Isi Ajaran Śākya [di era] Chên-yüan yang Baru Ditetapkan 《貞元新定釋教目錄》 (T. vol. 55, № 2157 hlm. 891c). Sesudah mendarat di Kanton, tahun 782 Prajña mencapai ibukota dan bermaksud mentraduksi mula-mula *Mahānaya Ṣatpāramitā Sūtra. Adapun salinan naskah yang dibawanya tertulis dalam bahasa asing yang tidak dikuasaïnya (barangkali Sogdiana atau bahasa-bahasa Asia Tengah lainnya). Maka ia bekerjasama dengan Ching-ching yang, kendati tidak paham sama sekali ajaran Buddha ataupun istilah-istilah Sanskerta, namun sedikit–banyak mengenal bahasa tersebut. Karya-bersama mereka dalam tujuh jilid gagal mendapat pengesahan dari kaisar saat itu, Tê-tsung (memerintah 779–805). Kaisar memandang mutu terjemahan mereka rendah dan melarang dilakukannya proyek kolaborasi serupa guna menghindari perancuan kedua tradisi keagamaan yang berbeda. Pada tahun 788 akhirnya Prajña berhasil mentraduksi-ulang — kali ini dengan dibantu tim penerjemah Buddhis — sūtra yang sama dalam sepuluh jilid dengan judul Ta-shêng li-ch’ü liu po-lo-mi-to ching 《大乘理趣六波羅蜜多經》 (kini dimuat sebagai T. № 261).

Pujian kepada Tiga Perbawa boleh jadi dialihbahasakan Ching-ching sebelum kedatangan Prajña. (Ms. Pelliot 3847 yang mendasari teks kita, akan tetapi, berusia lebih muda — disalin pada penghujung atau pasca zaman T’ang di daerah perbatasan, Tun-huang.) Pemanfaatan istilah-istilah Buddhis di dalamnya bukanlah hal yang baru. Sebuah teks lain yang lebih arkais, Hsü-t’ing Mi-shih-so ching 《序聽迷詩所經》 (Kitab ‘Sendengkan Telinga bagi Mesias’, T. № 2142), bahkan menggunakan karakter 佛 yang sepertinya bermaksud “ilah” atau “Allah”. Teks ini barangkali berasal dari masa A-lo-pên 阿羅本, uskup misionaris pertama yang datang satu setengah abad sebelum Ching-ching. Prasasti Hsi-an mengisahkan bahwa A-lo-pên membawa-serta berbagai kitab pada tahun 635 ke ibukota. Isi kitab-kitab itu lalu diterjemahkan (atau, lebih mungkin, dirangkumkan berbentuk risalah) ke bahasa Tionghoa untuk memperkenalkan doktrin-doktrin Kristianisme — dengan meminjam kosakata Buddhis dan Taois — ke hadapan Kaisar T’ai-tsung (memerintah 626–649). Dalam karya Ching-ching perbaikan-perbaikan terjemahan tentu sudah diusahakan. Namun, sebagian istilah Buddhis yang masih bertahan (karena telanjur populer) dapat ditemukan, dan akan kita anotasi dengan catatan kaki di bawah.

Menengok Pujian kepada Tiga Perbawa sepintas lalu, kita mungkin sulit dapat langsung mengenalinya sebagai suatu terjemahan Gloria in Excelsis Deo. Pertama-tama, madah asli versi Suria Timur yang menjadi sumbernya memang mempunyaï perbedaan isi yang khas, dan tidak persis sama yang umum beredar di antara Ritus-Ritus lain di seluruh Jagat Kristen. Kita bahkan tidak bisa mengakurkan dengan versi yang dipakai dalam Ritus Suria Barat, sepupu terdekatnya, yang justru lebih mirip versi-versi umum.

Gloria in Excelsis Deo versi Suria Timur Gloria in Excelsis Deo versi Suria Barat

Dan kedua, Pujian kepada Tiga Perbawa itu sendiri pun bukanlah terjemahan yang terlalu harfiah. Ia digubah berbentuk syair heptasilabis yang populer dalam susastra Tionghoa. Kerapkali beberapa huruf atau satu baris utuh disisipkan — sebagai parafrase di samping, terutama, demi melengkapi jumlah sukukata. Penambahan demikian membuat bahasanya jadi bertele-tele ketimbang madah aslinya. Untuk perbandingan baris per baris dengan madah aslinya, silakan unduh artikel di sini, sini, dan sini.










§1




《景教三威蒙度讚》
Pujian Pemeroleh Keselamatan
kepada Tiga Perbawa Agama Gemilang

(T. № 2143)







WU
SHANG
CHU
T’IEN
SHÊN
CHING
T’AN
TA
TI
CH’UNG
NIEN
P’U
AN
HO
 
 
 
Kepujian dengan hormat mendalam di atas segala langit yang tiada teratasi — Damai sejahtera semesta, di bumi besar, di antara manusia yang berlipat kerinduan
 
JÊN
YÜAN
CHÊN
HSING
MÊNG
I
CHIH
SAN
TS’AI
TZ’Ŭ
FU
A
LO
HO
 
 
 
akan kodrat sejati asalinya beroleh rida dan sandaran — — kepada Allah¹, Bapa yang Rahim² dari ketiga alam³.
 
I
CH’IEH
SHAN
CHUNG
CHIH
CH’ÊNG
LI
I
CH’IEH
HUI
HSING
CH’ÊNG
TSAN
KO
 
 
 
Sekalian yang berbudi dalam jemaat dengan tulus menyembah-Mu. Sekalian yang bijak sifatnya dengan gita pujian memuliakan-Mu.
 
I
CH’IEH
HAN
CHÊN
CHIN
KUI
YANG
MÊNG
SHÊNG
TZ’Ŭ
KUANG
CHIU
LI
MO
 
 
 
Sekalian yang menyimpan kebenaran menengadah berlindung pada-Mu sebab beroleh cahaya kerahiman Dikau, Yang Suci, Yang Menolong tercerai dari Iblis,
 
NAN
HSÜN
WU
CHI
CHÊNG
CHÊN
CH’ANG
TZ’Ŭ
FU
MING
TZŬ
CHING
FÊNG
WANG
 
 
 
Yang Sukar Tertelusuri dan Tiada Terpada, Keabadian Sejati setepatnya: Bapa yang Rahim, Putra Terang, dan Angin Kudus — Sang Raja [Surgawi].
 
CHU
TI
CHUNG
WEI
SHIH
TI
CHU
SHIH
TSUN
WEI
FA
HUANG
 
 
 
Dari segala prabu antaranya, Engkaulah Prabu yang gurawa. Dari segala junjungan dunia¹⁰, Engkaulah Diraja yang berhikmah¹¹.
 
CH’ANG
CHÜ
MIAO
MING
WU
P’AN
CHIEH
KUANG
WEI
CHIN
CH’A
YU
CHIEH
CHIANG
 
 
 
Senantiasa bermukim dalam ranah tiada batas terang ajaib, perbawa cahaya-Mu memindai sehabis-habis perhinggaan eksistensi.
 
TZŬ
SHIH
WU
JÊN
CH’ANG
CHIEN
FU
I
CHIEN
PU
K’O
HSIANG
 
 
 
Sejak awal-mula tiada manusia yang pernah dapat melihat-Mu; lagi tidak bisa Dikau terciri apabila dilihat melalui rupa.
 
WEI
TU
CHÜEH
NING
CH’ING
CHING
WEI
TU
SHÊN
WEI
WU
TÊNG
LI
 
 
 
Hanya Engkau semata Kekudusan terkristalisasi secara mutlak. Hanya Engkau semata Kekawian tiada banding perbawa ilahi.
 
WEI
TU
PU
CHUAN
YEN
JAN
TS’UN
CHUNG
SHAN
KÊN
PÊN
FU
WU
CHI
 
 
 
Hanya Engkau semata Kebakaan sedemikian hebat tanpa bertukar. [Dari-Mu] akar kebaikan¹² kami, jemaat-Mu, bermula lagi tiada berhingga.
 
WO
CHIN
I
CH’IEH
NIEN
TZ’Ŭ
ÊN
T’AN
PI
MIAO
LO
CHAO
TZ’Ŭ
KUO
 
 
 
Kini kami sekalian yang merindukan rahmat kerahiman-Mu memuji [melalui] Dia, yang sukacita ajaib-Nya menyinari negeri ini¹³,
 
MI
SHIH
HO
P’U
TSUN
TA
SHÊNG
TZŬ
KUANG
TU
K’U
CHIEH
CHIU
WU
I
 
 
al-Masih¹⁴, Junjungan Semesta¹⁵, Putra Mahasuci, Penyelamat Ekstensif ranah derita, Penolong tiada berketi:
 
CH’ANG
HUO
MING
WANG
TZ’Ŭ
HSI
KAO
TA
P’U
TAN
K’U
PU
TZ’Ŭ
LAO
 
 
 
Ya Anakdomba mubarak dan rahim dari Raja Hayat yang Hidup Senantiasa, Engkau yang tidak menghidari sengsara demi menanggung derita semesta,
 
YÜAN
SHÊ
CH’ÜN
SHÊNG
CHI
CHUNG
TSUI
SHAN
HU
CHÊN
HSING
WU
YAO
 
 
 
Engkau yang bertekad menghapuskan dosa berat akumulatif seisi dunia¹⁶, lindungilah kami, agar dalam kodrat sejati mendapat ketidakrenggangan [dengan-Mu].
 
SHÊNG
TZŬ
TUAN
TSAI
FU
YU
TSO
CH’I
TSO
FU
CH’AO
WU
TING
KAO
 
 
 
𣂨
Ya Putra yang Suci, yang elok berkedudukan di¹⁷ sebelah kanan Bapa — kedudukan tersebut lagi menjulang tiada tertanding tingginya —,
 
TA
SHIH
YÜAN
PI
YÜN
CHUNG
CH’ING
CHIANG
FA
SHIH
MIEN
HUO
CHIANG
P’IAO
 
 
 
使
ya Guru Agung¹⁸, kiranya di sana Engkau kabulkanlah¹⁹ permohonan kami, jemaat-Mu. Turunkanlah rakit [keselamatan-Mu] supaya terluput kami dari ombang-ambing sungai berapi.²⁰
 
TA
SHIH
SHIH
WO
TÊNG
TZ’Ŭ
FU
TA
SHIH
SHIH
WO
TÊNG
SHÊNG
CHU
 
 
 
Sebab Engkaulah, Guru Agung, merupakan Bapa kami yang Rahim. Engkaulah, Guru Agung, merupakan Tuhan kami yang Suci²¹.
 
TA
SHIH
SHIH
WO
TÊNG
FA
WANG
TA
SHIH
NÊNG
WEI
P’U
CHIU
TU
 
 
 
Engkaulah, Guru Agung, merupakan Raja kami yang Berhikmah²². Engkaulah, Guru Agung, yang mampu menjadi Penyelamat dan Penolong Semesta.
 
TA
SHIH
HUI
LI
CHU
CHU
LEI
CHU
MU
CHAN
YANG
PU
TSAN
I
 
 
 
Engkaulah, Guru Agung, kekuatan kebijak-sanaan²³ yang membantu segala yang letih. Segala mata terpandang menengadah pada-Mu tanpa sekejap pun berpaling.
 
FU
K’U
CHIAO
CHIANG
KAN
LU
SO
YU
MÊNG
JUN
SHAN
KÊN
TZŬ
 
 
 
Lagi bagi yang layu mengering telah Kauturunkan embun manis²⁴ sehingga semua yang beroleh curahan-Mu terpupuk akar kebaikannya,
 
TA
SHÊNG
P’U
TSUN
MI
SHIH
HO
 
ya Yang Mahasuci, Junjungan Semesta¹⁵, al-Masih!
 
WO
T’AN
TZ’Ŭ
FU
HAI
TSANG
TZ’Ŭ
 
 
 
 
 
Adalah kepujian kami dalam kerahiman dari perbendaharaan samudra²⁵ Bapa yang Rahim,
 
TA
SHÊNG
CHIEN
CHI
CHING
FÊNG
HSING
 
 
 
 
 
[kepada-Mu] Yang Mahasuci, bersama-sama²⁶ dengan Angin Kudus sekodrat
 
CH’ING
NING
FA
ÊRH
PU
SZŬ
I
 
 
 
 
 
tidak terkirakan [selama-lamanya].

Kristalisasi Hikmah.
sahaja.



²⁷






(一卷)《大秦景教三威蒙度讚》(一卷)
Akhir Pujian Pemeroleh Keselamatan
(1 jilid) kepada Tiga Perbawa Agama Gemilang dari Suria Agung (1 jilid)










Sampai di sini Pujian kepada Tiga Perbawa selesai. Sementara itu teks kita masih berlanjut dengan §2, Tsun Ching 《尊經》 (‘Kitab Penjunjungan’). Apabila fisik ms. Pelliot 3847 kita teliti, nyatalah bahwa kedua seksi tertulis pada lembaran kertas berbeda yang kemudian dilem menjadi satu. Jadi, Tsun Ching sejatinya adalah teks yang independen. Namun, ia memberi informasi penting terkait Pujian kepada Tiga Perbawa karena menyebutkannya sebagai salah satu di antara kitab-kitab yang dialihbahasakan oleh Ching-ching.




CATATAN:

¹ Cn. a-lo-ho 阿羅訶 — Jelas asalnya dari kata Suryani ʾalāhā ܐܠܗܐ. Secara kebetulan pula koinsiden dengan transkripsi Buddhis untuk bentuk Prakerta araha 阿羅訶 yang kurang populer dibanding bentuk Sanskerta arhant 阿羅漢.

² Cn. tz’ŭ-fu 慈父 — Sering digunakan untuk menjuluki Buddha, sebagai terjemahan dari Skt. maitryā upetaṃ pitaram. Akan tetapi, istilah ini sebetulnya terdapat dalam literatur klasik Tionghoa dan tidak khas Buddhis.

³ Istilah Cn. san-ts’ai 三才 pertama kali disebut dalam kitab I-ching 《易經》 dan diperikan sebagai: langit 天, bumi 地, dan manusia 人. Ini mirip — meski urutan unsurnya terbalik — dengan konsep India tribhuvana atau triloka yang terdiri atas: bhūrloka (dunia bumi/alam bawah), bhuvarloka (dunia atmosfer/alam manusia), dan svarloka (dunia swarga/alam atas).

⁴ Cn. i-ch’ieh shan-chung 一切善眾 — Bisa juga diterjemahi ‘sekalian jemaat yang berbudi’.

⁵ Cn. kui-yang 歸仰 — Pada masa awal pengalihbahasaan teks-teks Buddhis, merupakan traduksi yang agak lentur untuk berbagai kata; tetapi, terutama, sebagai sinonim kui-i 歸依 ‘perlindungan’ (Skt. śaraṇa). Penggunaan terdini, misalnya, dalam jilid 2 Pratyutpanna Samādhi Sūtra 《般舟三昧經》 (T. № 418) yang selesai diterjemahkan Lokakṣema tahun 179 M:
是三昧者是菩薩眼、諸菩薩母、諸菩薩所歸仰、諸菩薩所出生。
Samādhi ini merupakan mata para bodhisattva, ibu para bodhisattva, dijadikan perlindungan para bodhisattva, dijadikan pelahir para bodhisattva.

⁶ Cn. mo 魔 — Huruf ini sepertinya kreasi — tidak bisa kita temukan dalam literatur pra-Han — kaum Buddhis, yang mula-mula menciptakannya untuk transkripsi kata Skt. māra 魔羅. Lama-kelamaan terjadi penyingkatan menjadi 魔 saja, dan ia pun masuk kosakata Tionghoa umum tanpa konotasi Buddhis.

⁷ Sur. rūḥā ḏ-quḏšā ܪܘܚܐ ܕܩܘܕܫܐ — Ingat bahwa rūḥā atau kognatnya dalam berbagai bahasa Semitis (Arab rūḥ رُوح ; Ibrani rúakh רוּחַ) dapat berarti: 1. nafas, angin, udara; 2. roh, jiwa, spirit. Bandingkan dalam bahasa asli Perjanjian Baru: Hagio Pneuma, Άγιο Πνεύμα.

⁸ Cn. ti 帝 — Merupakan terjemahan untuk Sur. mārā ܡܪܐ ‘tuan, majikan’. Lihat juga catatan no. 20 di mana, secara kurang konsisten, terjemahannya adalah chu 主.

Kata ti — kini biasanya dimengerti sebagai sebutan untuk kaisar, huang-ti 皇帝 (‘prabu yang cemerlang’) — bisa kita temukan semenjak zaman Dinasti Shang (milenium ke-2 SM) terutama untuk menyebut deitas tertinggi, Shang-ti 上帝, yang menjadi nenek moyang surgawi kaisar-kaisar Shang. Belakangan kaum Protestan mengadopsi baik shang-ti maupun chu secara bergantian sebagai traduksi kata Tu(h)an.


⁹ Kata bahasa Jawa yang berasal dari Skt. gaurava ‘(bersifat) keguruan, terhormat’.

Baris ini agak melenceng dari madah Sur. yang seharusnya:

w-mārā ḏ-mārāwātā
ܘܡܪܐ ܕܡܪܘܬܐ
dan [Engkaulah] Tuan di antara segala tuan.

Parafrasenya sepertinya rancu dengan panggilan — sesuai bacaan Peshitta — rabban w-māran ܪܒܢ ܘܡܪܢ ‘Guru kami dan Tuan kami’ (Yoh. 13: 13). Kata rabban juga merupakan adjektiva yang bermakna ‘mulia, agung’. Maka Shih Ti 師帝 dapat kita artikan ‘Prabu/Tuan Guru’ atau ‘Prabu/Tuan yang gurawa’.


¹⁰ Cn. shih-tsun 世尊 — Dalam konteks Buddhis merupakan terjemahan lentur untuk berbagai gelar Buddha: Lokajyeṣṭha, Lokanātha, Lokanāyaka, atau umumnya Bhagavant.

¹¹ Cn. fa-huang 法皇 — Bandingkan dengan catatan no. 22. Buddhis Tionghoa nyaris tidak pernah memakai istilah fa-huang.

¹² Cn. shan-kên 善根 — Dalam konteks Buddhis merupakan terjemahan dari Skt. kuśalamūla.

¹³=Negeri Cina? Samar-samar mengingatkan kita pada Alleluia Pengantar Injil misa Natal siang dalam Ritus Romawi, yang baitnya barangkali berasal dari Ritus-Ritus timur sebab banyak manuskrip nyanyian kuno mencatatnya bilingual berbahasa Yunani–Latin:
Dies sanctificatus illuxit nobis;
venite gentes et adorate Dominum
quia hodie descendit lux magna super terram.

Sebuah hari yang dikuduskan telah terbit menerangi kita;
datanglah, hai bangsa-bangsa, dan sembahlah Tuhan
sebab pada hari ini terang yang besar turun ke atas bumi.


¹⁴ Cn. mi-shih-ho 彌施訶 — Transkripsi dari Sur. mšīḥāʾ ܡܫܝܚܐ .

¹⁵ Cn. p’u-tsun 普尊 — Mungkinkah ini suatu upaya mentraduksi nama Yesus, yang bentuk Suryani-nya ʾĪšōʿ ܝܫܘܥ ? Sebutan ini muncul sekali lagi di akhir.

¹⁶ Cn. ch’ün-shêng 群生 — Dalam konteks Buddhis merupakan terjemahan dari sarvasattva ‘semua makhluk’; tetapi, sering juga bahujana ‘orang banyak’, atau bahkan jagat atau loka saja.

¹⁷ Pada ms. tertulis 仼 (editor Taishō mencetaknya sebagai 任) yang pasti merupakan salah-salin untuk tsai 在 ‘di’.

¹⁸ Cn. ta-shih 大師 — Panggilan kepada Yesus berdasarkan Yoh. 13: 13. Lihat catatan no. 9. Dalam konteks Buddhis, koinsiden dengan terjemahan dari gelar Buddha Śāstr̥.

¹⁹ Karakter kurang jelas pada ms. Editor Taishō membacanya ch’i 乞 ‘mengemis’. Tetapi, sepertinya lebih baik yün 允 ‘mengizinkan, mengabulkan’.

²⁰ Sepintas mirip dengan perumpamaan ajaran Buddha sebagai rakit dan Buddha sendiri nakhodanya (lihat, misalnya, di sini). Akan tetapi, metafora Bahtera Keselamatan sesungguhnya cukup umum dan sering terjumpaï dalam ikonografi gereja-gereja timur.

²¹ Cn. shêng-chu 聖主 — Bandingkan catatan no. 8. Untuk penggunaan Buddhis, misalnya, ia menjadi terjemahan dari narendra dalam bab I Saddharmapuṇḍarīka Sūtra 《妙法蓮華經》 (T. № 262): 又睹諸佛,聖主師子 (Skt. buddhāṃśca paśyāmi narendrasiṃhān).

²² Cn. fa-wang 法王 — Kali ini sebutan yang koinsiden dengan gelar Buddha sebagai Raja Hukum (Skt. dharmarāja) inilah yang digunakan. Bandingkan catatan no. 11.

²³ Cn. hui-li 慧力 — Dalam konteks Buddhis merupakan terjemahan dari Skt. prajñābala.

²⁴ Cn. kan-lu 甘露 — Dalam konteks Buddhis merupakan terjemahan dari Skt. amr̥ta.

²⁵ Cn. hai-tsang 海藏 — Istilah Buddhis untuk menggambarkan perbendaharaan yang sangat luas dan dalam, yang menjadi gudang segala harta-benda. Terjemahan dari Skt. sāgaragarbha ini sering terjumpaï terutama dalam teks Avataṃsaka.

²⁶ Pada ms. tertulis ch’ien 謙 ‘rendah hati’. Tetapi, sepertinya lebih baik diganti chien 兼 ‘dan, bersama’. Jika bacaan ms. kita ikuti, maka keseluruhan kalimat dapat diartikan ‘[kepada-Mu] Yang Mahasuci yang telah merendahkan diri agar dengan Angin Kudus sekodrat’.

²⁷ Cn. ch’ing-ning fa êrh 清凝法耳 — Traduksi dari Sur. ʾāmēn ܐܡܝܢ ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar