Selasa, 19 Desember 2023

Madah Kemuliaan Agama Gemilang (Ching-chiao 景教), sambungan


№ 2143, yang seksi pertamanya sudah kita terjemahkan pada posting lalu, dilanjutkan dengan seksi kedua bertajuk Tsun Ching 《尊經》 (‘Kitab Penjunjungan’). Fisik manuskrip aslinya (Pelliot 3847) menampakkan jejak persambungan di antara kedua seksi: masing-masing tertulis pada lembaran kertas yang berbeda, tetapi kemudian dilem menjadi satu. Jadi, keduanya semula independen satu sama lain.

Tsun Ching terdiri dari beberapa segmen yang semuanya berawalan ching-li 敬禮 (‘sembah hormat’): mula-mula

berupa syair bagi Allah Tritunggal, disusul berupa daftar bagi para fa-wang dan bagi kitab-kitab Kristen yang telah dialihkan ke bahasa Tionghoa. Istilah fa-wang di §1 digunakan untuk merujuk Yesus Kristus sendiri (lihat catatan no. 22, juga no. 11). Namun, di sini sepertinya ia bermakna ‘rasul’ (atau ‘santo’? — untuk amannya akan kita traduksi secara harfiah saja sebagai ‘raja hukum’).

Saran yang sering diajukan adalah memandang daftar para fa-wang selaku bagian dari diptik, yaïtu daftar ganda berisikan nama warga-warga gereja yang hidup dan yang wafat, yang akan didoakan dalam misa sebagai bentuk pengenangan (Lat. commemoratio) dan pewakilan (Lat. intercessio) atas nama mereka kurban misa tersebut dipersembahkan. Mencantumkan nama-nama ke dalam diptik menggambarkan persekutuan seluruh jemaat dengan sesama yang masih hidup, juga bersama yang telah wafat. Orang-orang kudus seperti para fa-wang selalu mendapat tempat karena, selain dikenang sebagaimana orang meninggal, syafaatnya juga dimohon supaya mendoakan gereja yang masih mengembara di dunia. Nama-nama lain merupakan tambahan yang sewaktu-waktu saja dicantumkan: diptik gereja-gereja timur pada awalnya menambahkan warga-warganya yang telah wafat melulu, sementara diptik gereja-gereja barat lebih pada donatur-donatur yang berderma dalam penyelenggaraan misa. Hanya di kemudian hari isi diptik menjadi lebih seragam baik di timur maupun di barat, dan mendoakan berbagai kelompok orang mulaï dari patriark, uskup, para klerus, kaum religius, pemimpin negara, orang sakit, musafir, dsb. di samping yang telah meninggal.

Maka apa hakikat Tsun Ching sesungguhnya tidaklah pasti. Tanpa adanya nama-nama yang tercantum kecuali daftar para fa-wang, sukarlah untuk menetapkannya sebagai sebuah diptik. Permasalahan lain adalah format sembah hormat seperti pada Tsun Ching tidak dikenal dalam diptik atau teks-teks liturgis Kristen mana pun. Penghormatan bagi kitab-kitab suci, khususnya, merupakan unsur yang asing sekali.

Kita justru teringat akan format Ritual Pertobatan kepada Sepuluh Ribu Buddha (T. № 441) dalam 30 jilid, yang merupakan penerapan liturgis atas Buddhanāma Sūtra 《佛說佛名經》 (T. № 440). Dalam teks ini Buddhanāma Sūtra dipecah-pecah menjadi lebih banyak jilid; setiap jilidnya berisi lebih sedikit Buddha yang masing-masing diberi hormat dengan bersujud. Dalam cara yang sama, penghormatan bagi Dharma dilakukan kepada kitab-kitab suci yang judulnya sudah termaktub masuk Tripiṭaka terjemahan Tionghoa. Selanjutnya adalah penghormatan bagi Saṅgha yang meliputi bodhisattva-saṅgha, pratyeka-saṅgha, dan śrāvaka-saṅgha. Liturgi lalu ditutup oleh doa tobat yang panjang, serta perikop dari teks apokrif *Ratnadatta Sūtra 〈寶達經〉. Demikianlah struktur ini diulangi di setiap jilid hingga seluruh nama Buddha dalam Buddhanāma Sūtra selesai disujudi.

Kemiripan terlihat di sini. Tsun Ching mengadaptasi liturgi Buddhis ke dalam konteks Kristen dengan sejumlah penyesuaian, semisal membalik urutan penghormatan: bagi para fa-wang terlebih dulu, barulah bagi kitab-kitab suci. Ia mengawali daftar nama-nama dengan ching-li, sementara liturgi Buddhis menyebut namaḥ. Penempelan Pujian kepada Tiga Perbawa di mukanya pun boleh jadi mengikuti kebiasaan Buddhis Tionghoa yang hingga hari ini membuka liturgi pertobatan mereka dengan satu dua bait gāthā pujian sebelum bersujud kepada nama-nama para Buddha.

Adaptasi yang paling ketara tentu pada syair pertama yang berupaya menjelaskan Tritunggal Kristen dengan meniru doktrin tiga tubuh Buddha (Trikāya). Paralel dengan Dharmakāya yang tidak terbayangkan, Allah Bapa secara gampang saja disebut sebagai miao-shên 妙身 (‘tubuh menakjubkan, tubuh ajaib’). Sedangkan bagi Allah Putra dipinjam istilah ying-shên 應身 (‘tubuh respons, tubuh penanggap’) yang dalam teks-teks Buddhis agak ambigu deskripsinya untuk Buddha sebagai tubuh fisis (Nirmāṇakāya) atau tubuh yang lebih halus (Parasaṃbhogakāya) yang diwujudukan-Nya karena berbelaskasih merespons penderitaan makhluk lain. Allah Roh Kudus ialah chêng-shên 證身 (‘tubuh penyaksi’), dan di sini akan kita traduksi ‘tubuh pemeterai’ karena fungsinya menjadi saksi/bukti orang-orang yang beriman Kristen.

Terakhir, di samping segala permasalahan di atas, harus kita camkan pula bahwa nama-nama diri dalam Tsun Ching, yang aslinya berbahasa Suryani, dapat tampak berbeda dengan bentuk populer nama-nama yang sama yang kita serap, acapkali, dari versi Latin atau Arab-nya. Bentuk Suryani itulah yang ditranskripsi dalam aksara honji sesuai bacaan Cina Pertengahan sehingga, manakala kini kita membunyikannya secara Mandarin modern, sering terdengar ketidakcocokan. Para pembaca yang menghendaki akurasi dianjuri mengikut bacaan bahasa-bahasa Tionghoa selatan — Hokkien, misalnya — yang lebih banyak mempertahankan fonologi kuno.










§2




《尊經》
Kitab Penjunjungan







CHING
LI
MIAO
SHÊN
HUANG
FU
A
LO
HO
YING
SHÊN
HUANG
TZŬ
MI
SHIH
HO
 
 
Sembah hormat bagi Tubuh Ajaib, Allah, Bapa Diraja; Tubuh Penanggap, al-Masih, Putra Diraja;
 
CHÊNG
SHÊN
LU
HO
NING
CHÜ
SHA
I
SHANG
SAN
SHÊN
T’UNG
KUI
I
T’I
 
 
 
 
Tubuh Pemeterai, Rohu ’l-kudus¹ ketiga tubuh di atas terpulang bersama kepada satu hakikat².
 
CHING
LI
HAN
NAN
FA
WANG
LU
CH’IEH
FA
WANG
 
 
Sembah hormat bagi Raja Hukum Yohanes
(Sur. Yōḥannān ܝܘܚܢܢ),
Raja Hukum Lukas
(Sur. Luqa ܠܘܩܐ),
 
MO
CHÜ
TZ’Ŭ
FA
WANG
MING
T’AI
FA
WANG
MOU
SHIH
FA
WANG
 
 
 
 
 
Raja Hukum Markus
(Sur. Mārqos ܡܪܩܘܣ),
Raja Hukum Matius
(Sur. Mattay ܘܡܬܝ),
Raja Hukum Musa
(Sur. Mūšē ܡܘܫܐ),
 
TO
HUI
FA
WANG
CHING
T’UNG
FA
WANG
PAO
LU
FA
WANG
 
 
 
 
 
Raja Hukum Daud
(Sur. Dawīd ܕܘܝܕ),
Raja Hukum Penembusan Gemilang³, Raja Hukum Paulus
(Sur. Pāwlos ܦܘܠܘܣ),
 
CH’IEN
YEN
FA
WANG
NA
NING
YI
FA
WANG
MIN
YEN
FA
WANG
 
 
 
 
 
Raja Hukum Seribu Mata, Raja Hukum Daniël
(Sur. Ḏānīʾēl ܒܕܢܝܐܝܠ),
Raja Hukum Kilau Kumala,
 
MO
SA
CHI
SZŬ
FA
WANG
I
HUO
CHI
SZŬ
FA
WANG
 
 
 
 
Raja Hukum Dom. Sergius
(Sur. Mār Sargis ܡܪܝ ܣܪܓܝܣ),
Raja Hukum Georgius
(Sur. Gēwargis ܓܝܘܪܓܝܣ),
 
MO
MO
CHI
SZŬ
FA
WANG
TS’ÊN
WÊN
SÊNG
FA
WANG
 
 
 
 
Raja Hukum Dom. Bakhus
(Sur. Mār Bākōs ܡܪܝ ܒܟܘܣ),
Raja Hukum Simon Rahib
(=Petrus?),
 
ÊRH
SHIH
SZŬ
SHÊNG
FA
WANG
HSIEN
NAN
YEH
FA
WANG
 
 
 
 
Raja Hukum 24 Orang Suci, Raja Hukum Ananias
(Sur. Ḥannanyā ܚܢܢܝܐ),
 
HO
SA
YEH
FA
WANG
MI
SHA
YI
FA
WANG
 
 
 
 
Raja Hukum Azarias
(Sur. ʿAzaryā ܥܙܪܝܐ),
Raja Hukum Misael
(Sur. Mīšāʾēl ܡܝܫܐܝܠ)¹⁰,
 
SO
LO
FA
WANG
CH’Ü
LU
FA
WANG
PAO
HSIN
FA
WANG
 
 
 
 
 
Raja Hukum Sarah¹¹, Raja Hukum *Kyrus¹², Raja Hukum Pengabar Iman¹³.
 
CHING
LI
CH’ANG
MING
HUANG
LO
CHING
HSÜAN
YÜAN
CHIH
PÊN
CHING
 
 
Sembah hormat bagi Kitab Sukacita Diraja
Terang Abadi,
Kitab Penyeru
Mula Tertinggi Yang Asali¹⁴,
 
CHIH
HSÜAN
AN
LO
CHING
T’IEN
PAO
TSANG
CHING
 
 
 
 
Kitab Sukacita Sejahtera
Misteri Tertinggi¹⁵,
Kitab Perbendaharaan
Pusaka Ilahi¹⁶,
 
TO
HUI
SHÊNG
WANG
CHING
A
ÊN
CH’Ü
LI
JUNG
CHING
 
 
 
 
Kitab Raja Suci Daud
(=Mazmur),
Kitab Evangelium
(Sur. ʾEwwangellīōn ܐܘܢܓܠܝܘܢ)¹⁷,
 
HUN
YÜAN
CHING
T’UNG
CHÊN
CHING
PAO
MING
CHING
CH’UAN
HUA
CHING
 
 
 
 
 
 
Kitab Asal-Muasal
(=Kejadian?),
Kitab Penembusan Kebenaran, Kitab Terang Pusaka, Kitab Transmisi Pengajaran¹⁸,
 
CH’ING
I
CHING
YÜAN
LING
CHING
SHU
LÜEH
CHING
SAN
CHI
CHING
 
 
 
 
 
 
Kitab Pelepasan Tuntas¹⁹, Kitab Rohani Asali, Kitab Ikhtisar²⁰, Kitab Tiga Tahap²¹,
 
CHÊNG
CHIEH
CHING
NING
SZŬ
CHING
HSÜAN
I
CHING
 
 
 
 
 
Kitab Pemaparan Soal²², Kitab Peneduh Pemikiran²³, Kitab Penyeru Makna,
 
SHIH
LI
HAI
CHING
PAO
LU
FA
WANG
CHING
SHAN
HO
CHING
 
 
 
 
 
Kitab Para Rasul
(Sur. Šəlīḥā ܫܠܝܚܐ),
Kitab Raja Hukum Paulus, Kitab Zakharias
(Sur. Zəḵaryā ܙܟܪܝܐ)²⁴,
 
I
LI
YÜEH
SZŬ
CHING
NING
YEH
SHÊN
CHING
I
TSÊ
CHING
 
 
 
 
 
Kitab Gregorius
(Sur. Grīgōryōs ܓܪܝܓܘܪܝܘܣ)²⁵,
? Kitab Perundangan Tatatertib²⁶,
 
P’I
O
CH’I
CHING
SAN
WEI
TSAN
CHING
MOU
SHIH
FA
WANG
CHING
 
 
 
 
 
? Kitab Pujian kepada Tiga Perbawa²⁷, Kitab Raja Hukum Musa
(=Taurat),
 
I
LI
YEH
CHING
O
FU
LIN
CHING
PAO
HSIN
FA
WANG
CHING
 
 
 
 
 
Kitab Elias
(Sur. ʾĒlīyā ܐܠܝܐ)²⁸,
Kitab Efraim/Efrem
(Sur. ʾAp̄rêm ܐܦܪܝܡ)²⁹,
Kitab Raja Hukum Pengabar Iman³⁰,
 
MI
SHIH
HO
TZŬ
TSAI
T’IEN
TI
CHING
SZŬ
MÊN
CHING
 
 
 
 
Kitab al-Masih Merdeka atas Langit dan Bumi, Kitab Empat Pintu³¹,
 
CH’I
CHÊN
CHING
MO
SA
CHI
SZŬ
CHING
TZ’Ŭ
LI
PO
CHING
 
 
 
 
 
Kitab Pengungkap Kebenaran, Kitab Dom. Sergius
(Sur. Mār Sargis ܡܪܝ ܣܪܓܝܣ)³²,
Kitab Salib
(Sur. Ṣəlīḇā ܨܠܝܒܐ)³³,
 
WU
SHA
NA
CHING
 
 
 
Kitab Hosanna
(Sur. ʾŌšaʿnā ܐܘܫܥܢܐ)³⁴.






(Kolofon oleh penyalin manuskrip:)


謹案《諸經目錄》,大秦本教經都五百卅部,並是貝葉梵音。 太宗皇帝貞觀九年,西域太德僧阿羅本屆于中夏,並奏上本音。房玄齡魏徵宣譯奏言。)後召本教大德僧景淨譯,得已上卅部卷。餘大數具在貝皮夾,猶未翻譯。
Mengecek dengan seksama di dalam katalog Daftar Berbagai Kitab, [tersebutlah] bahwa kitab-kitab agama kita dari Suria Agung sejumlah 530 judul seluruhnya berupa lontar berbahasa asing. Pada tahun ke-9 Chên-kuan (635) era Kaisar Tang T’ai-tsung, saat Rahib A-lo-pên, yang berkebajikan agung, dari negeri barat tiba di Cina, seluruhnya dilaporkannya [kepada Kaisar] dengan logat kita. (Fang Hsüan-ling dan Wei Chêng menyuarakan traduksi kata-kata laporan itu.) Belakangan dititahkanlah kepada agama kita agar Rahib Ching-ching, yang berkebajikan agung, menerjemahinya sehingga menghasilkan jilid-jilid 30 judul di atas. Sebagian besar sisanya utuh berupa keropak lontar dan perkamen, masih belum diterjemahi.









CATATAN:

¹ Berkenaan dengan transkripsi lu-ho-ning-chü-sha, bandingkan catatan no. 7 pada seksi pertama.

² T’i 體 merusak bait heptasilabis karena melebihkan jumlah sukukata. Karakter ini sepertinya ditambahkan belakangan untuk memperjelas ‘terpulang bersama kepada satu’, yaïtu satu substansi atau hakikat (Yun. homoousion, ὁμοούσιον ; Lat. consubstantia).

³ Tokoh yang sukar diidentifikasi. Pada prasasti bilingual Hsi-an, yang kita bahas di pengantar seksi pertama, terpahat nama-nama dobel sejumlah rahib menggunakan aksara Suryani dan Tionghoa. Seorang Sergius disebutkan sebagai Ching-t’ung di sana. Akan tetapi, ia bukanlah Sergius satu-satunya. Beberapa yang lain juga terbaca dengan nama Tionghoanya masing-masing: Rahib Ling-tê 僧靈德, Rahib Ning-hsü 僧凝虛, dan Rahib Yüan-tsung 僧元宗. Maka dapat kita lihat bahwa nama-nama lokal yang dipakai para rahib ini independen, bukan merupakan terjemahan dari Suryani langsung. Pada teks kita sendiri pun selanjutnya St. Sergius (dan Bakhus — lihat catatan no. 7) terjumpaï berupa transkripsi Mo Sa-chi-szŭ 摩薩吉思.

⁴ Tokoh lain yang sukar diidentifikasi.

⁵ Tokoh lain yang sukar diidentifikasi. Mungkinkah Min-yen transkripsi dari Ibrani Miryām מרים (Sur. Maryam ܡܪܝܡ)? Pencantuman Stᵃ. Maria, dan juga Sarah (lihat catatan no. 11), dalam daftar ini terasa mengganjal sebab istilah fa-wang kurang cocok menjadi gelar wanita.

⁶ Gelar mār ܡܪܝ berarti ‘tuanku’, dan biasanya ditambahkan di depan nama seorang uskup dalam Kristianisme Suria. Namun, secara umum, ia digunakan pula untuk menyebut semua orang kudus (dengan bentuk feminin mārt ܡܪܬܝ), serupa sebutan santo/santa di Barat. Konotasi aslinya tidak terasa lagi. Meski begitu, di sini kita akan memadankannya dengan dominus (gelar ini pun — dengan segala bentuk turunannya dalam bahasa-bahasa Barat — bervariasi penggunaannya sejalan waktu dan daerah: mulaï dari sebutan untuk berbagai jenjang pembesar gereja, berbagai tingkat bangsawan, berbagai pangkat akademisi, hingga sekadar kehormatan saja untuk pria/wanita yang dituakan).

⁷ Perhatikan bahwa hanya Sergius dan Bakhus, dua santo bersahabat, ini saja yang diembel-embeli mār di daftar kita. Bersama dengan Georgius, yang namanya disisipkan di antara keduanya, mereka menjadi martir dalam penganiayaan yang dimulaï sejak masa Kaisar Diokletianus (303 M). Kultus penghormatan Sergius dan Bakhus secara berpasangan, serta Georgius, berkembang di Suria lalu menyebar ke seluruh Jagat Kristen.

Ts’ên-wên sêng adalah tokoh interlokutor utama yang bercakap-cakap dengan Al-Masih dalam Kitab Sukacita Sejahtera Misteri Tertinggi 《志玄安樂經》 (lihat catatan no. 15). Sepertinya ia merupakan transkripsi Šmγwn sng (Šamghōn sang), terjemahan nama Simon dalam bahasa Sodgdiana.

⁹ Barangkali 24 orang penulis kitab-kitab Perjanjian Lama sebagaimana juga disinggung dalam Prasasti Hsi-an: 卄四聖有說之舊法.

¹⁰ Ananias, Azarias, dan Misael adalah tiga pemuda sahabat Daniel (Dan. 1: 6) yang ikut dalam pembuangan ke Babel. Mereka dicampakkan ke tanur, tetapi malah selamat dan bernyanyi-nyanyi di tengah kobaran api (kidung apokrif Dan. 3 antara ayat 23 dan 24). Penyebutan nama-nama mereka secara khusus dalam daftar ini tampaknya mau menegaskan identitas Gereja Timur yang berakar dari Asyuria–Babilonia (yakni daerah Mesopotamia).

¹¹ Sama seperti untuk Maria (lihat catatan no. 5), penggunaan istilah fa-wang di sini pun kurang cocok jikalau nama ini memang merujuk seorang wanita. Stᵃ. Sarah (Sur. Sarā ܣܪܐ) mungkin bukan istri Abraham dalam Perjanjian Lama, melainkan saudara perempuan Behnām yang menjadi martir di abad ke-4.

¹² Tentatif. Barangkali mentranskripsikan Quro ܩܘܪܐ, salah satu dari beberapa bentuk Suryani untuk nama Kyrus/Koresh (bentuk lain yang terjumpaï: Kūreš ܟܘܪܫ, Qiyore ܩܝܘܪ̈ܐ, Quriyos ܩܘܪܝܘܣ). Kyrus mana yang dimaksud masih menjadi pertanyaan. Yang disarankan adalah Kyrus dari Edessa, seorang teolog Suria Timur yang aktif mengarang di abad VI. Namun, dalam karangan-karangannya, namanya selalu ditulis sebagai Qiyore.

¹³ Barangkali merujuk pada Addai ܐܕܝ (dilatinkan menjadi Addeus atau kadang Thaddeus dalam sumber-sumber Barat), rasul pertama yang menginjili orang-orang Asyuria dan, berdasarkan tradisi, merupakan salah satu dari 70 murid utama Yesus (Luk. 10: 1).

¹⁴ Kitab ini terukir pada sebuah tugu batu yang ditemukan kembali tahun 2006 lalu di timur Lo-yang, ibukota lama Tiongkok. Tugu yang desainnya meniru tugu dhāraṇī Buddhis tersebut bertarikh 814 M. Isinya dapat dilihat di sini.

¹⁵ Salah satu kitab Agama Gemilang yang manuskripnya ditemukan di Tun-huang, tetapi tidak dimuat dalam Kanon Taishō. Isinya dapat dilihat di sini.

¹⁶ Barangkali merujuk pada bagian breviarium yang disebut Gazā ܓܙܐ (‘perbendaharaan, harta pusaka’), yang mengkompilasi doa dan nyanyian berbagai ibadah vigilia. Atau mungkin malah merujuk suatu buku missale berisikan tata perayaan Liturgi Ilahi atau Ekaristi, sebab hosti kudus yang sudah dikonsekrasi juga dikenal sebagai Gazā.

¹⁷ Empat Injil kanonis atau mungkin terjemahan Diatessaron, harmonisasi keempatnya menjadi satu kitab. Masihkah Diatessaron dipergunakan (dan dialihbahasakan) di abad VIII–IX oleh Gereja Timur?

¹⁸ Terjemahan suatu kitab pengajaran “rasuliyah” yang barangkali berasal dari literatur ordo gereja kuna semacam Didache, Traditio Apostolica, dsb. Kita akan mengesampingkan kemungkinan sebagai Kisah Perbuatan (Lat. Acta) Para Rasul, yakni kitab ke-5 Perjanjian Baru, sebab sebuah Šəlīḥā disebutkan selanjutnya di dalam daftar.

¹⁹ Istilah ch’ing-i 罄遺 juga muncul dalam Prasati Hsi-an, dan kelihatannya merupakan terminologi khas yang tidak diketahui lagi makna tepatnya.

²⁰ Mungkin semacam katekismus, mengingat banyak pengarang Suryani yang membuat karya sejenis.

²¹ Karya Yusuf Hazzaya (Sur. Yawsep Ḥazzāyā ܝܘܣܦ ܚܙܝܐ) tentang tiga tahap atau langkah yang harus dipersiapkan untuk menempuh kehidupan monastik: ragawi, psikis, dan spiritual.

²² Karya St. Afrahat, seorang beretnik Persia yang menjadi petapa Kristen dan banyak menulis dalam bahasa Suryani. Ada 23 pemaparan yang dikarangnya tentang berbagai soal iman dan praktik Kekristenan.

²³ Sebuah karangan tentang memerangi pikiran kedagingan. Karya-karya semisal Antirrhetikos oleh St. Evagrius banyak diterjemahkan ke bahasa Suryani.

²⁴ Alih-alih kitab Nabi Zakaria dari Perjanjian Lama, mungkin ini merujuk terjemahan sebuah karya Zakharias Ahli Retorika, uskup Mitilene.

²⁵ Dari sekian banyak St. Gregorius, mungkin ini merujuk pada Gregorius dari Nazianze yang tulisannya paling sering dikutip pengarang-pengarang Gereja Timur.

²⁶ Barangkali sebuah kitab tatatertib/regula kebiaraan.

²⁷ Yakni madah yang sudah diterjemahkan di seksi pertama teks kita.

²⁸ Kurang jelas Elias mana yang dimaksud. Kemungkinan besar bukan Nabi Elias dari Perjanjian Lama.

²⁹ St. Efrem orang Suria termasyhur banyak menulis madah-madah pujian.

³⁰ Apabila Pao-hsin fa-wang (lihat catatan no. 13) merujuk pada St. Addai, maka kitab yang dimaksud kemungkinan besar adalah Doktrin Addai (Sur. Malp̄ānūṯā d-Addai Šəlīḥā ܡܠܦܢܘܬܐ ܕܐܕܝ ܫܠܝܚܐ).

³¹ Kemungkinan besar adalah Tetrabiblos, sebuah teks astrologi karya Ptolemeus, yang diterjemahkan ke bahasa Suryani oleh Severus Sebokht (Sur. Seweros Sebokt ܣܘܪܘܣ ܣܝܒܘܟܬ atau Sawira Sabokt ܣܐܘܝܪܐ ܣܐܒܘܟܬ).

³² Kemungkinan besar adalah Kisah Sengsara (Lat. Passio) Sergius dan Bakhus.

³³ Barangkali sebuah teks tentang penemuan kembali Salib Kristus di Yerusalem oleh Stᵃ. Helena, atau malah teks liturgi Jumat Agung.

³⁴ Kemungkinan besar adalah teks liturgi Minggu Palem, yang disebut Minggu Hosanna oleh Gereja Timur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar