Rabu, 22 Januari 2020

Maṅgala Varga & Sejarah Penerjemahan Kitab Dharmapada


rikut adalah padanan Maṅgala Sutta, sebuah sutta yang populer dilafalkan sebagai paritta oleh Buddhis Theravādin. Padanan ini dalam Tripiṭaka Tionghoa termuat sebagai bab terakhir Fa-chü ching 《法句經》 alias Dharmapada, yakni bab “Keberuntungan” 〈吉祥品〉 (“Maṅgala Varga”). Penempatan sebagai bab terakhir boleh jadi memang disengaja, mengingat kebiasaan penyusun teks-teks religius India untuk menutup karyanya dengan syair-syair keberuntungan.

Seperti kita ketahui, terdapat kitab-kitab Dharmapada milik mazhab yang berbeda-beda dalam 500-an, 700-an, dan 900-an bait. Dhammapada Pāli merupakan contoh sebuah versi 500-an yang paling populer, meski kekurangannya sangat banyak dan hanya mengandung 423 bait. Contoh lainnya adalah manuskrip yang kini dikenal dengan sebutan Dharmapada Patna. Manuskrip tersebut kelihatan lengkap. Namun, berdasarkan kolofon penutupnya, kitab aslinya seharusnya mengandung 502 bait (gāthā-śatāni pañca dve ca gāthe ).

Fa-chü ching 《法句經》 (‘Kitab Pepatah Dharma’, T. vol. 4, № 210) merupakan sebuah Dharmapada dalam 758 bait. Bentuk awalnya berasal dari teks bawaan Wei-ch’i-nan 維祇難 (*Vighnan? *Vijitananda?) yang diterjemahkan bersama bhikṣu kawan seperjalanannya dari India, Chu Lü-yen 竺律炎 (*Vinayajyoti?, juga dikenal sebagai Chiang-yen 將炎 atau Ch’ih-yen 持炎), sedini tahun 224 M. dengan bantuan Upāsaka Chih Ch’ien 支謙. Ini adalah terjemahan sebuah versi 500-an milik mazhab yang tidak kita ketahui, dalam 26 bab. Barangkali setelah Wei-ch’i-nan meninggal, sepuluh tahun kemudian Lü-yen memperoleh sebuah versi Dharmapada dalam 700-an bait — lagi-lagi tidak diketahui milik mazhab mana — dan menyerahkannya kepada Chih Ch’ien yang memang lebih mahir berbahasa Tionghoa. Dengan memanfaatkan terjemahan versi 500-an yang dikerjakan sebelumnya, Chih Ch’ien lalu menambahkan bait-bait yang kurang ke bab-bab yang telah ada, mentraduksi lagi 13 bab baru, dan mengatur-ulang penomoran agar sesuai dengan urutan dalam versi 700-an tersebut. Demikianlah bentuk final hasil editan Chih Ch’ien menjadi T. № 210 yang kita baca sekarang. Cerita di atas bersumber dari prakata anonim di akhir jilid kesatunya (hlm. 566b–c) yang, dapat kita simpulkan, dituturkan oleh Chih Ch’ien sendiri.

Dharmapada yang diterjemahkan Wei-ch’i-nan dkk. bukanlah yang pertama dalam bahasa Tionghoa. Prakata menyebutkan beredarnya pada saat itu sebuah Dharmapada Tionghoa “transmisi Ko-shih dalam 700-an gāthā” 葛氏傳七百偈. (Ko-shih berarti seseorang yang bermarga Ko. Tetapi, alm. Venerabilis Yin-shun berspekulasi bahwa Ko-shih merupakan transkripsi kuno untuk [mazhab] Kāśyapīya.) Versi ini tidak lestari, telah punah sebagaimana versi-versi lain yang lebih tua — mungkin ada, sebab katalog-katalog menyebutkan, misalnya, sebuah Dharmapada terjemahan An Shih-kao. Sedangkan Dharmapada 900-an, walaupun Chih Ch’ien mengetahui keberadaannya, tampaknya hanya lebih belakangan baru diterjemahkan. Contoh terkenal versi ini ialah kitab Udānavarga Sarvāstivāda, yang dialihkan di penghujung abad IV sebagai Ch’u-yao ching 《出曜經》 (T. № 212) serta di abad X sebagai Fa chi yao-sung ching 《法集要頌經》 (T. № 213).

Fa-chü ching memiliki sebuah kitab komentar,  Fa-chü p’i-yü ching 《法句譬喩經》 (*Dharmapada-avadāna, T. № 211) yang, sama seperti Dhammapada-aṭṭhakathā Pāli, memuat cerita-cerita yang melatarbelakangi bait-baitnya. Teks kita, “Maṅgala Varga”, memiliki latar belakang kebingungan sekelompok 梵志 — istilah ini di sepanjang Fa-chü ching digunakan sebagai terjemahan untuk kata brāhmaṇa — ketika berdiskusi tentang apakah keberuntungan itu sesungguhnya. Guru yang menjadi pemimpin kelompok tersebut dalam kitab Komentar disebut 尼揵梵志 (=nirgrantha brāhmaṇa) — entah apakah perkataan ini berarti ia seorang nirgrantha (penganut Jainisme) ataukah Nirgrantha merupakan nama dirinya sebab hanya ia yang disebut demikian, sedangkan 500 siswanya tidak. Bertindak menjadi interlokutor, mereka kemudian bersama-sama menanyakan masalah keberuntungan ini kepada Buddha, dan Buddha pun membabarkan teks kita. Nasihat-nasihat Buddha seperti: banyak mendengar (=banyak belajar pengetahuan dan keterampilan), mengatur rumah-tangga, menyokong anak dan istri, dll. terdengar lebih relevan dalam teks kita karena disampaikan kepada tokoh interlokutor manusia, dibandingkan dengan Maṅgala Sutta Pāli yang malah dibabarkan kepada dewa!

Alih-alih istilah samar ‘berkah utama’, di sini kita akan menerjemahkan maṅgalam uttamaṃ 最吉祥 dengan ‘keberuntungan tertinggi’. Keberuntungan bukanlah apa yang kita terima — emas, perak, aneka permata, kendaraan mewah, wanita cantik, musik merdu, pemandangan elok dll. (lihat kitab Komentar) — melainkan apa yang dapat kita berikan. Dapat berbakti kepada orangtua adalah keberuntungan, dapat berderma dengan samarata adalah keberuntungan, dapat selalu memberi pelayanan adalah keberuntungan, ... dapat hidup selaras Dharma adalah keberuntungan.




Mangala Sutta in Chinese Canon



吉祥品第三十九
Bab XXXIX
Keberuntungan
十有九章
Ada 19 bait



吉祥品者,修己之術,去惡就善,終厚景福。
Bab “Keberuntungan” berisi tentang seni membina diri — bagaimana dengan menyingkirkan kejahatan dan menghampiri kebaikan pada akhirnya akan mempertebal berkah kesejahteraan.¹

  1. 佛尊過諸天  Kemuliaan Buddha melampaui para dewa;
    如來常現義  Tathāgata senantiasa menampilkan makna.
    有梵志道士  Adalah sekelompok brāhmaṇa² penempuh Jalan³
    來問何吉祥  yang datang menanyakan apakah keberuntungan itu.

  2. 於是佛愍傷  Di sini Buddha tergugah karena belas kasihan,
    為說真有要  dan dibabarkan-Nya esensi dari Kebenaran:
    已信樂正法  “Setelah yakin lalu bergemar akan Saddharma
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  3. 若不從天人  Jika tidak mengikuti [cara-cara] dewa dan manusia
    希望求僥倖  yang berharap-harap mencari kemujuran,
    亦不禱祠神  juga tidak berdoa menyajen kepada roh-roh
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  4. 友賢擇善居  Berteman dengan yang arif, memilih permukiman yang sesuai,
    常先為福德  senantiasa mendahulukan berbuat jasa,
    勅身從真正  mengatur diri setepatnya mengikuti Kebenaran
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  5. 去惡從就善  Menyingkirkan kejahatan, bertolak menghampiri kebaikan,
    避酒知自節  menjauhi minuman keras, mengetahui batasan diri,
    不婬于女色  tidak berahi akan kecabulan
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  6. 多聞如戒行  Banyak mendengar, hidup seturut kesusilaan,
    法律精進學  berlatih Dharma dan Vinaya dengan semangat,
    修己無所爭  membina diri bebas dari pertentangan
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  7. 居孝事父母  Berdiam dalam kebaktian melayani orangtua,
    治家養妻子  mengatur rumah-tangga, menyokong anak dan istri,
    不為空之行  tidak berbuat perilaku yang sia-sia
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  8. 不慢不自大  Tidak sombong, tidak membesarkan diri,
    知足念反復  tahu bercukup dan ingat membalas [budi],
    以時誦習經  melafalkan dan mempelajari sūtra pada waktunya
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  9. 所聞常以忍  Selalu bersabar atas [nasihat] yang didengar,
    樂欲見沙門  gemar beraudiensi dengan para śramaṇa,
    每講輒聽受  setiap pembahasan lantas disimak dan diterima
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  10. 持齋修梵行  Memegang puasa, membina kehidupan kudus,
    常欲見賢聖  senantiasa bergairah mengunjungi para ārya,
    依附明智者  bersandar kepada mereka yang bijaksana
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  11. 以信有道德  Sepenuh keyakinan menuntut kebajikan Jalan,
    正意向無疑  mengarahkan pikiran yang tepat supaya tiada keraguan,
    欲脫三惡道  berhasrat terbebas dari tiga jalur kelahiran rendah
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  12. 等心行布施  Melaksanakan derma dengan batin samarata,
    奉諸得道者  menjunjung mereka yang telah memperoleh Jalan,
    亦敬諸天人  juga menghormati sesama dewa dan manusia
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  13. 常欲離貪欲  Selalu berkehendak menanggalkan pikiran nafsu
    愚癡瞋恚意  keserakahan, kebodohan, dan kebencian;
    能習成道見  membiasakan berpandangan kondusif kepada Jalan
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  14. 若以棄非務  Menghindari kesalahan dalam segala urusan,
    能勤修道用  tekun mengembangkan penerapan Jalan,
    常事於可事  selalu memberi pelayanan kepada yang dapat dilayani
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  15. 一切為天下  Terhadap segala yang di kolong langit,
    建立大慈意  membangun rasa sayang yang agung,
    修仁安眾生  berbelaskasih menenteramkan semua makhluk
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  16. 欲求吉祥福  Barangsiapa ingin mencari berkah keberuntungan,
    當信敬於佛  hendaklah yakin dan menghormati Buddha;
    欲求吉祥福  barangsiapa ingin mencari berkah keberuntungan,
    當聞法句義  hendaklah mendengarkan makna pepatah Dharma;
  17. 欲求吉祥福  barangsiapa ingin mencari berkah keberuntungan,
    當供養眾僧  hendaklah memuja kepada Saṅgha
    戒具清淨者  yang murni dengan kelengkapan Śīla
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  18. 智者居世間  Ia yang bijak akan berdiam di dunia
    常習吉祥行  senantiasa mempelajari laku keberuntungan,
    自致成慧見  hingga berhasil mencapai Pemahaman dan Pandangan
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.”

  19. 梵志聞佛教  Para brāhmaṇa, mendengar apa yang Buddha ajarkan,
    心中大歡喜  merasa amat bergembira dalam batinnya,
    即前禮佛足  lalu maju menyembah kaki Beliau,
    歸命佛法眾  dan berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Saṅgha.






CATATAN:

¹ Bandingkan etimologi rakyat yang dipaparkan komentator Pāli pada “Maṅgala-sutta Vaṇṇanā”, baik yang termuat dalam komentar Khuddaka Pātha maupun komentar Sutta Nipāta:
Maṅgala disebut demikian karena maṁ galanti imehi sattā ‘melaluinya makhluk-makhluk jatuh ke dalam maṁ’.
(Edisi Chaṭṭa Saṅgāyana, dalam komentar Khuddaka Pātha, menambahkan kata mahanti menjadi: maṁ galanti mahanti imehi sattā ‘melaluinya makhluk-makhluk jatuh dan membesar ke dalam maṁ’.)
Maṁ, yang tidak diketahui artinya, tampaknya berasal dari akar √maṅg ‘pergi, bergerak’ atau malah √maṃh ‘meningkat’, sehingga klausa di atas dapat kita tafsirkan ‘melaluinya makhluk-makhluk jatuh (dan membesar) ke dalam peningkatan’.

Dr. R. L. Soni, dalam bukunya yang terkenal, Life’s Highest Blessings: The Mahā Maṅgala Sutta (terbit pertama kali di Mandalay, 1956; selanjutnya diterbitkan-ulang sebagai seri bersambung The Wheel Publication № 254–256 [Kandy, 1978]), menafsirkan maṁ sebagai ‘keadaan menyedihkan’ (woeful condition) — barangkali ia mengaitkannya dengan kata manyu ‘duka, kesedihan, kekesalan, kemarahan’. Sedangkan ga-la ditafsirkannya ‘mengusir dan memotong’ (driving away and cutting off). Walau ia mengatakan bahwa tafsiran ini berasal dari para komentator Pāli, namun kita tidak bisa menemukan sumbernya dari kitab mana.

² Brāhmaṇa 梵志 — Dalam terjemahan Tionghoanya, tentu saja tidak dapat dipastikan apakah 梵志 merupakan bentuk singularis atau pluralis. Di sini dan di bait 19 kita bisa saja mengartikannya ‘seorang brāhmaṇa’. Kita baru tahu bahwa jumlah yang bertanya plural berkat bantuan kitab Komentar.

³ Penempuh Jalan 道士 — Istilah lama ini (atau variannya 道人) dipergunakan secara lentur sebagai padanan untuk berbagai kata. Ia dapat berarti parivrājaka ‘petapa pengembara’. Apabila ditambahi 異 di depannya, maka 異道士 berarti tīrthika ‘penempuh jalan berbeda/non-Buddhis’. Kadang-kadang ia menjadi terjemahan bagi kata śramaṇa. Tetapi, bentuk ganda 沙門道士 justru berarti ‘śramaṇa dan brāhmaṇa’. Walau kadang digunakan sebagai terjemahan brāhmaṇa, apabila kata majemuk 梵志道士 muncul, tampaknya berarti ‘brāhmaṇa (dan) r̥ṣi’.

Di sepanjang Fa-chü ching kata brāhmaṇa secara berganti-ganti diterjemahkan 梵志 atau 道人. Terjadi kesulitan dalam menafsirkan 梵志道士 pada teks kita (‘seorang brāhmaṇa-r̥ṣi’?), yang sepertinya merujuk pada sang guru seorang (lihat catatan no. 2 tentang masalah singularis atau pluralis). Namun, di sini kita terpaksa mengikuti kitab Komentar dan menafsirkannya ‘sekelompok brāhmaṇa penempuh Jalan’.

Jalan di sini juga sepertinya merujuk jalan non-Buddhis. Namun, Komentar menggambarkan bahwa 500 murid brāhmaṇa tersebut ‘telah berlatih di bawah Buddha-Buddha terdahulu, dan digariskan akan memperoleh Jalan (=Kesucian) di kehidupan sekarang’ (先佛所行,應當得道).

Banyak mendengar 多聞 — Skt. bahuśruta, yakni: banyak belajar. Bandingkan bāhusaccañ (ca sippañ ca) pada Maṅgala Sutta.

Kehidupan kudus 梵行 — Skt. brahmacarya, yakni: hidup sélibat.

⁶ Bait 16–17 tidak terdapat pada kitab Komentar.

Pepatah Dharma 法句 — Skt. dharmapada.

Pemahaman dan Pandangan 慧見 — Yakni: Pemahaman dan Pandangan akan Kebebasan (vimukti-jñāna-darśana), salah satu agregat dari tubuh Dharma beragregat lima. 慧見 merupakan terjemahan lama untuk 知見.

⁹ Lihat juga catatan no. 2. Dalam kitab Komentar edisi Korea, bait 19 dihapuskan; edisi-edisi terbitan Tiongkok masih memuatnya. Bait ini memang menjadi mubazir pada kitab Komentar sebab isinya diulangi kembali berbentuk prosa sesudah itu.

Jumat, 27 Juli 2018

Sebuah Versi Khotbah Pemutaran Roda Dharma

ni adalah terjemahan Cina tertua yang masih lestari dari sebuah versi Khotbah Pemutaran Roda Dharma (Dharmacakra Pravartana Sūtra). Hampir semua versi khotbah ini dalam Tripiṭaka Tionghoa telah dialihkan ke bahasa Inggris di sini dan sini, kecuali versi yang termuat dalam berbagai biografi Buddha (misalnya: dalam dua terjemahan Lalitavistara, dll.) serta versi An Shih-kao dari pertengahan abad II di bawah ini. Kita tidak tahu dari kanon mazhab manakah An Shih-kao menerjemahkan versinya. Sebagai terjemahan perdana, di dalamnya banyak kita temukan istilah-istilah arkais sehingga kadang-kadang timbul kesulitan untuk memastikan bentuk Indis aslinya. Ketidakkonsistenan dalam pemakaian istilah juga menunjukkan bahwa An Shih-kao masih mencari-cari terjemahan yang pas sebagai padanan baku.

Khotbah Pemutaran Roda Dharma pada dasarnya dapat dianalisa menjadi tiga bagian. Bagian 1 membahas dua ekstrem yang harus dihindari serta Jalan Tengah yang harus diadopsi, yang berunsur delapan. Bagian 2 menjelaskan definisi masing-masing dari keempat Kebenaran. Sedangkan bagian 3 berisi pemutaran keempat Kebenaran tersebut dalam dua belas modus, timbulnya mata Dharma pada Kauṇḍinya, dan diwartakannya berita gembira ini secara estafet oleh para dewa hingga ke surga brahma.

Menilik berbagai versi yang ada, nyatalah bahwa yang dinamakan Dharmacakra Pravartana Sūtra setepatnya hanya memuat bagian 3. Di India kuno, dalam kanon mazhab-mazhab tertentu, bagian 3 seringkali beredar tersendiri, misalnya: sebagai sūtra ke-379 Saṃyukta Āgama, 《轉法輪經》. Dalam varga XIX Ekottara Āgama, yang berasal dari kanon berbeda, sebaliknya, kita temukan dua ekstrem yang dibabarkan sebagai sūtra tersendiri 《二事經》 di luar Khotbah Pemutaran Roda Dharma.

Pada versi yang memuat tiga bagian, bagian 2 sepertinya merupakan sisipan yang berfungsi menjadi transisi, untuk menjelaskan kaitan antara Jalan Tengah berunsur delapan (di bagian 1) dengan Empat Kebenaran (yang diputar di bagian 3) — yakni: sebagai Kebenaran tentang jalan untuk mengakhiri penderitaan. Bahwasanya bagian 2 cuma tambahan dapat terlihat pada “Saṅghabheda Vastu” dari Mūlasarvāstivāda Vinaya (T. № 1450) yang juga memisahkan bagian 1 dan 3 sebagai dua peristiwa independen, diselingi dengan kegiatan mengemis derma dan makan. Oleh karenanya tidak perlu lagi ditambahkan suatu transisi di situ. Adegan pendefinisian masing-masing Kebenaran justru muncul di malam harinya setelah pemutaran Empat Kebenaran selesai.

Kekhasan tampak pada pembukaan versi An Shih-kao berupa masuknya unsur legenda tentang kemunculan secara ajaib sebuah Roda Dharma. Buddha menghentikan perputaran roda itu untuk kemudian memutarnya kembali di bagian 3. Mungkin terjadi salah-salin selama berabad-abad tentang jumlah bhikṣu yang hadir. Karakter 千 (‘seribu’) sepertinya adalah kekeliruan untuk 五 (‘lima’). Legenda Roda Dharma ini dikutip dalam karya ensiklopedis Fa-yüan chu-lin 《法苑珠林》 (‘Hutan Mutiara di Taman Dharma’, T. vol. 53 № 2122) topik ke-13, “Pembabaran Dharma” 說法部 (hlm. 370c). Namun, sayangnya, Fa-yüan chu-lin tidak menyebutkan berapa bhikṣu yang hadir. Bagaimanapun juga, khotbah pertama Bhagavan merupakan episode yang begitu populer dalam Buddhisme mazhab mana pun sehingga mustahil terdapat sebuah versi dengan jumlah hadirin yang berbeda.

Bagian 3 versi An Shih-kao juga unik karena sangat singkat. Pada berbagai versi Khotbah Pemutaran Roda Dharma, kedua belas modus tampil dalam dua varian permutasi:
  • Varian pertama bermula dari Empat Kebenaran itu sendiri, kemudian masing-masing dirincikan dalam tiga putaran. Versi yang menggunakan varian ini misalnya Dhammacakkappavattana Pāli.
  • Varian kedua langsung memerikan tiga putaran di mana setiap putaran menguraikan keempat Kebenaran. Berdasarkan varian ini, eksegesa dalam Buddhisme Tiongkok kemudian menafsirkan bahwa putaran-putaran itu berturut-turut bersifat indikatif 示轉, rekomendatif 勸轉, dan evidensial 證轉.
Versi An Shih-kao secara prinsipiil mengikuti varian kedua. Akan tetapi, Empat Kebenaran tidak diuraikan dalam masing-masing putaran. Urutan putaran-putaran itu pun terbalik; An Shih-kao secara jenius menghubungkannya dengan persona gramatikal Buddha. Sebagai orang pertama, Buddha mula-mula memutar Empat Kebenaran dengan memberikan evidens (“Aku sudah membuktikannya”). Kepada orang kedua, lawan bicara-Nya, Beliau menganjurkan rekomendasi (“Kebenaran ini harus di-…”). Sedangkan kepada orang ketiga, yang tidak hadir secara langsung saat Beliau berkhotbah, Beliau hanya menampakkan indikasi (“inilah Kebenaran tentang …”).

Di samping itu, dalam versi ini pun pewartaan estafet oleh para dewa tidak terjadi. Suara pemutaran Roda Dharma hanya disebutkan terdengar dalam sekejap hingga ke alam brahma. Juga tidak diceritakan awal-mula Kauṇḍinya mendapat gelar “Ājñāta”. Akan tetapi, semua bhikṣu yang hadir saat itu dikatakan mencapai Kearhatan.









《佛說轉法輪經》
Dharmacakra Pravartana Sūtra
(T. № 109)






後漢 安息國三藏安世高 譯
Diterjemahkan oleh Tripiṭakācārya An Shih-kao dari Parthia
pada masa Dinasti Han Belakang






聞如是。
Demikianlah yang telah kudengar.



一時,佛在波羅㮈國,鹿野樹下坐。時,有比丘。諸天神皆大會,側塞空中。
Pada suatu ketika Buddha berada di Vārāṇasī, melungguh di Taman Rusa (Mr̥gadāva). Tatkala itu hadirlah seribu bhikṣu. Para dewa dalam rombongan besar pun merapat bersisian di angkasa.



於是有自然法輪飛來,當佛前轉。佛以手撫輪,曰:「止!往者吾從無數劫來,為名色轉,受苦無量。今者癡愛之意已止,漏結之情已解,諸根已定,生死已斷,不復轉於五道也。」
Maka secara ajaib muncullah sebuah roda Dharma yang terbang mendekat dan berputar di hadapan Buddha. Buddha menepuk roda tersebut dengan tangan-Nya seraya berkata: “Cukup! Dahulu, sejak berkalpa-kalpa yang tak terhitung, untuk mental dan fisik (nāmarūpa) Aku berputar-putar [dalam saṃsāra] dan menerima penderitaan yang tak terukur. Kini pikiran kecintaan yang dungu (saṃmohatr̥ṣṇā) telah terhenti, emosi menyimpul (upakleśa?) karena kebocoran (āsrava) telah terurai, segala indera-Ku telah termantapkan, kelahiran dan kematian telah Kupotong, tiada lagi perputaran dalam lima jalur (pañcagati).”

輪即止。
Roda itu pun berhenti.



1. Dua Ekstrem



於是佛告諸比丘:「世間有二事墮邊行。行道弟子捨家者,終身不當與從事。何等二?
Maka Buddha memberitahu para bhikṣu: “Di dunia ini terdapat dua hal yang merupakan praktik penjerumus ke pinggiran (anta). Seorang siswa yang melaksanakan Jalan dan meninggalkan rumah-tangga, sepanjang hayat tidak semestinya menurutinya. Apakah keduanya itu?

一為、念在貪欲,無清淨志;
1. Mendamba-dambakan hawa nafsu (kāmeṣu kāmasukhallikā) sehingga tiada perhatian murni;

二為、猗著身愛,不能精進。
2. Mengungkung secara ekstrem kecintaan badani (ātma-kāya-klamatha) sehingga tidak mampu bersemangat.

是故!退邊行,不得值佛道德真人。
Oleh karenanya, ia yang mundur kepada praktik pinggiran takkan dapat menjadi Pribadi Sejati (ārya)¹ pemegang kebajikan Jalan Buddha!



若此比丘不念貪欲、著身愛行,可得受中。如來最正覺得眼、得慧,從兩邊度,自致泥洹。何謂受中?
Apabila bhikṣu tersebut tidak mendambakan hawa nafsu atau mempraktikkan pengungkungan kecintaan badani, bolehlah ia mendapati Penerimaan yang Tengah (madhyamā pratipad). Tathāgata yang Tercerahkan Sempurna memperoleh mata (cakṣus), memperoleh kebijaksanaan (jñāna?) setelah terseberangkan dari kedua pinggiran; dan tiba di Nirvāṇa. Apakah Penerimaan yang Tengah itu?

謂,受八直之道:
Yakni, menerima Delapan Jalan yang Lurus:

一曰、正見,  1. Pandangan tepat (samyag-dr̥ṣṭi),
二曰、正思,  2. Pemikiran tepat (samyak-saṅkalpa)²,
三曰、正言,  3. Perkataan tepat (samyag-vāk),
四曰、正行,  4. Perilaku tepat (samyak-karmānta),
五曰、正命,  5. Penghidupan tepat (samyag-ājīva),
六曰、正治,  6. Pembinaan tepat (samyag-vyāyāma),
七曰、正志,  7. Perhatian tepat (samyak-smr̥ti)³,
八曰、正定。  8. Konsentrasi tepat (samyak-samādhi).



2. Empat Kebenaran Sejati



「若,諸比丘,本未聞道,當已知甚苦為真諦,已一心,受眼、受禪思、受慧見、覺所念,令意解。當知甚苦習盡為真諦已,受眼觀、禪思、慧見、覺所念,令意解。——如是盡真諦。
“Apabila, para bhikṣu, — sehubungan dengan Jalan yang belum pernah terdengar sini — telah Kuketahui sangat-sangat bahwa penderitaan merupakan Kebenaran Sejati, maka setelah memusatkan batin (manaskāra) atasnya, diperolehlah mata pengamat (cakṣus), diperolehlah meditasi penimbang (?), diperolehlah kebijaksanaan pemandang (jñāna?), diperolehlah keinsafan pencerah budi (āloka?), yang membawa pembebasan pikiran (cetovimukti). Setelah Kuketahui sangat-sangat bahwa akhir dari penyusun penderitaan merupakan Kebenaran Sejati, diperolehlah mata, diperolehlah meditasi, diperolehlah kebijaksanaan, diperolehlah keinsafan, yang membawa pembebasan pikiran. Demikianlah Kebenaran Sejati tentang akhir.



何謂為苦?謂:生老苦,病苦,憂悲惱苦,怨憎會苦,所愛別苦,求不得苦,要從五陰受盛為苦。
Apakah penderitaan? Yakni: kelahiran (jāti) dan ketuaan (jarā) adalah penderitaan; penyakit (vyādhi) adalah penderitaan; kesedihan (śoka), ratapan (parideva), dan iritasi (upāyāsa) adalah penderitaan; bersekutu dengan yang dibenci (apriya saṃprayoga) adalah penderitaan; terpisah dengan yang dicinta (priya viprayoga) adalah penderitaan; tidak mendapat apa yang diinginkan (yad api icchan paryeṣamāṇo na labhate) adalah penderitaan; pada esensinya apa pun dari kelima agregat penampung (pañcopādānaskandhā) adalah penderitaan.



何謂苦習?謂:從愛故,而令復有,樂性不離,在在貪憙:
Apakah penyusun penderitaan? Yakni: dari kecintaan (tr̥ṣṇā), yang menyebabkan keberadaan-kembali (punarbhava), yang tidak terceraikan dengan [gairah yang] sifatnya menggemarkan (nandī-rāga-sahagatā), di sana-sini menimbulkan ketagihan (tatra tatra abhinandinī):

欲愛、    kecintaan akan nafsu (kāma tr̥ṣṇā),
色愛、    kecintaan akan wujud (rūpa tr̥ṣṇā),
不色之愛。  kecintaan akan tanpa-wujud (ārūpya tr̥ṣṇā).

是習為苦。
Penyusun inilah yang menyebabkan penderitaan.



何謂苦盡?謂:覺從愛、復有所樂婬念;不受、不念、無餘、無婬、捨之、無復禪。如是為習盡。
Apakah akhir dari [penyusun] penderitaan? Yakni: keinsafan dari kecintaan, yang dengan gairah menyebabkan keberadaan-kembali digemarkan; tidak menerimanya (pratinisarga?), tidak mendambakannya (prahāṇa?), tanpa menyisakannya (aśeṣa), tanpa menggairahinya (virāga), melepasnya (nirodha?), tanpa mempertimbangkannya kembali (?). Demikianlah yang menyebabkan penyusun berakhir.



何謂苦習盡欲受道?謂:受行八直道:正見、正思、正言、正行、正命、正治、正志、正定。是為苦習盡受道真諦也。
Apakah jalan yang harus diterima untuk mengakhiri penyusun penderitaan? Yakni: menerima dan mempraktikkan Delapan Jalan yang Lurus: pandangan tepat, pemikiran tepat, perkataan tepat, perilaku tepat, penghidupan tepat, pembinaan tepat, perhatian tepat, konsentrasi tepat. Demikianlah Kebenaran Sejati tentang jalan yang harus diterima untuk mengakhiri penyusun penderitaan.



3. Tiga Putaran



「又是!比丘。苦為真諦,苦由習為真諦,苦習盡為真諦,苦習盡欲受道為真諦。
“Selanjutnya, para bhikṣu! Penderitaan merupakan Kebenaran Sejati, penyusun yang menyebabkan penderitaan merupakan Kebenaran Sejati, akhir dari penyusun penderitaan merupakan Kebenaran Sejati, jalan yang harus diterima untuk mengakhiri penyusun penderitaan merupakan Kebenaran Sejati.

若本在昔,未聞是法者,當受眼觀、禪行、受慧見、受覺念,令意得解。
Sebagaimana sini dahulu [Kubuktikan] Dharma yang belum pernah terdengar ini, maka diperolehlah mata, diperolehlah meditasi, diperolehlah kebijaksanaan, diperolehlah keinsafan, yang membawa pembebasan pikiran.

若令在斯,未聞是四諦法者,當受道眼、受禪思、受慧、覺,令意得解。
Apabila kepada situ [Kuanjurkan] Dharma tentang Empat Kebenaran yang belum pernah terdengar ini, maka diperolehlah mata, diperolehlah meditasi, diperolehlah kebijaksanaan, diperolehlah keinsafan, yang membawa pembebasan pikiran.

若諸在彼,不得聞是四諦法者,亦當受眼、受禪、受慧、受覺,令意得解。
Apabila kepada semua sana [Kutampakkan] Dharma tentang Empat Kebenaran yang belum pernah terdengar ini, juga diperolehlah mata, diperolehlah meditasi, diperolehlah kebijaksanaan, diperolehlah keinsafan, yang membawa pembebasan pikiran.

是為四諦三轉,合十二事;知而未淨者,吾不與也。一切世間諸天、人民,若梵、若魔、沙門、梵志,自知證已,受行戒、定、慧、解度、知見成:『是為四極。是生後不復有;長離世間,無復憂患。』」
Inilah tiga putaran (triparivarta) dari Empat Kebenaran, mentotalkan dua belas modus (dvādaśākāra); setelah mengetahuinya, namun belum juga Aku termurnikan, maka tidaklah Kuberikan hal ini [sebagai Ajaran]. Ketika dari antara seisi dunia ini dengan dewa, manusia, brahma, māra, śramaṇa, dan brāhmaṇa-nya Aku telah mengetahui dan membuktikannya sendiri, maka keberhasilan dalam mempraktikkan moralitas (śīla), konsentrasi (samādhi), kebijaksanaan (prajñā), kebebasan (vimukti), pemahaman dan pandangan (vimukti-jñāna-darśana) Kuperoleh, [dan barulah Kuproklamirkan:] ‘Inilah Empat Perhinggaan. Setelah kelahiran ini, tak ada keberadaan-kembali bagi-Ku; selamanya Kutinggalkan dunia ini, tiada lagi kesedihan dan putus asa.’ ”



佛說是時,賢者阿若拘鄰等,及八十姟天,皆遠塵離垢,諸法眼生。其比丘漏盡意解,皆得阿羅漢;及上諸習法,應當盡者,一切皆轉。
Sewaktu Buddha membabarkan hal ini, Āyuṣman Ājñāta Kauṇḍinya beserta delapan puluh koṭi dewa terjauhkan dari debu (viraja) dan terceraikan dari noda (vigatamala); timbullah pada mereka mata atas segala dharma (dharmeṣu dharmacakṣu). Keseribu bhikṣu mengakhiri kebocoran (kṣīṇāsrava) dan terbebaskan pikirannya (suvimuktacitta), semuanya mendapatkan Kearhatan. Dari segala dharma penyusun (samudayadharma) di atas, yang seharusnya diakhiri, mereka semua telah berpaling.



眾祐法輪聲三轉。諸天世間在法地者,莫不遍聞。至于第一四天王忉利天、焰摩天、兜術天、不驕樂天、化應聲天,至諸梵界,須臾遍聞。爾時,佛界三千日月、萬二千天地,皆大震動。
Roda Dharma Bhagavan bersuara dalam tiga putaran. Di seluruh dunia, para dewa yang berada di bumi tiada yang tidak mendengarnya. Hingga ke surga pertama Cāturmahārājakāyika, Surga Trāyastriṃśa, Surga Yāma, Surga Tuṣita, Surga Nirmāṇarati, Surga Paranirmitavaśavartin, bahkan hingga ke segala alam brahma, dalam sekejap kedengaranlah merata. Pada saat itu juga sistem dunia Buddha dengan tiga ribu matahari dan rembulan, serta dua belas ribu benua-benuanya, terguncang hebat.



是為佛眾祐,始於波羅㮈,以無上法輪,轉未轉者,照無數度。諸天人從是得道。
Demikianlah Buddha, sang Bhagavan, bermula dari Vārāṇasī memutarkan Roda Dharma Tiada Tara yang belum pernah diputar, dan menerangi tidak terhitung [makhluk supaya] terseberangkan. Sejak saat itulah para dewa dan manusia beroleh Jalan.



佛說是已,皆大歡喜。
Setelah selesai Buddha bersabda, semuanya merasa amat bergembira.







《佛說轉法輪經》
Akhir dari Dharmacakra Pravartana Sūtra






CATATAN:

¹ Cn. chên-jên 真人 — Merupakan istilah Taois yang dipergunakan dalam terjemahan kuno sebagai padanan arhat atau ārya seperti di sini. Tripiṭaka edisi Korea, akan tetapi, memberikan bacaan chü-jên 具人, dan keseluruhan klausa dapat diartikan: takkan dapat menjumpai Buddha, yang empunya kebajikan Jalan 不得值佛,道德具人.

² Penerjemah di abad-abad berikutnya memahami 正思 sebagai ‘perniatan tepat’ sehingga menggantinya dengan 正志, yang awalnya digunakan sebagai terjemahan samyak-smr̥ti (志 memang memiliki arti yang luas: ‘perhatian, pemikiran’; ‘cita-cita, kehendak, niat’). Belakangan istilah ini dimengerti lagi sebagai ‘pemikiran tepat’ sehingga kembali diganti dengan 正思惟. Lihat catatan 3 di bawah.

³ Edisi Sung, Yüan, dan Ming memberikan bacaan 正念 ‘perenungan tepat’ di sini. Namun, terjemahan terkuno biasanya menggunakan 正思 sebagai padanan samyak-saṅkalpa dan 正志 untuk samyak-smr̥ti. Terjemahan abad-abad berikutnyalah yang memadankan 正志 dengan samyak-saṅkalpa dan 正念 dengan samyak-smr̥ti. Di kemudian hari, yang menjadi standar adalah menggunakan 正思惟 untuk samyak-saṅkalpa dan 正念 untuk samyak-smr̥ti.

⁴ Paragraf ini sungguh membingungkan dan sepertinya salah tempat.

⁵ Angka ini paling bersesuaian dengan jumlah dewa yang tercerahkan di akhir Khotbah Pemutaran Roda Dharma dalam Mahāvastu Avadāna Lokottaravādin. Kai 姟 merupakan salah satu terjemahan untuk koṭi. Terjemahan lain yang juga umum adalah i 億. Satu koṭi berarti sepuluh juta (10⁷). Sebenarnya kai atau i sama-sama bukan terjemahan yang tepat dalam bahasa Tionghoa, baik dalam skala pendek maupun skala panjang.
Perpangkatan berbasis sepuluh dalam skala pendek Tionghoa adalah sbb.: 十 (10¹), 百 (10²), 千 (10³), 萬 (10⁴), 億 (10⁵), 兆 (10⁶), 京 (10⁷), 姟 (10⁸).
Sedangkan dalam skala panjang sbb.: 十 (10¹), 百 (10²), 千 (10³), 萬 (10⁴), 十萬 (10⁵), 百萬 (10⁶), 千萬 (10⁷), 億 (10⁸), 十億 (10⁹), 百億 (10¹⁰), 千億 (10¹¹), 兆 (10¹²), 十兆 (10¹³), 百兆 (10¹⁴), 千兆 (10¹⁵), 京 (10¹⁶), 十京 (10¹⁷), 百京 (10¹⁸), 千京 (10¹⁹), 姟 (10²⁰).

Sabtu, 16 Januari 2016

Pencerahan Buddha Śākyamuni

Mɑhāprɑjñāpārɑmitā Upɑdeśɑ 《大智度論》 bab I-10 (T. vol. 25, № 1509 hlm. 99b) mengutip beberapa syair yang hanya disebutkan bersumber dari Kṣudraka Piṭaka 雜藏. Apabila kita mengecek Khuddaka Nikāya Pāli, syair-syair tentang sepuluh balatentara Māra (mārasena) ini dapat ditemukan pada Pɑdhānɑ Suttɑ bait 12–15 (Sutta Nipāta 438–441), dst. Padanan gāthā tersebut ternyata juga ada dalam bab XVIII Lɑlitɑvistɑrɑ, “Nairañjanā Parivarta”; serta Mɑhāvɑstu bagian 2:240.

Syair-syair mārasena muncul kembali di bab I-25 (hlm. 169a) dengan sedikit variasi terjemahan. Kesepuluh balatentara itu ialah:
  1. Nafsu 欲 (kāma)
  2. Kedukaan/kecemasan 憂愁 (arati ‘ketidaksukaan’)
  3. Kelaparan dan kehausan 飢渴 (kṣutpipāsā)
  4. Kecintaan 愛 (tr̥ṣṇā)
    Bab I-25: 渴愛.
  5. Kantuk dan kelesuan 睡眠 (styānamiddha)
  6. Ketakutan 怖畏 (bhaya atau bhīru)
  7. Keraguan 疑 (vicikitsā)
    Bab I-25: 疑悔.
  8. Memendam racun 含毒 (mrakṣa)
    Kata mrakṣa dapat ditafsirkan beragam: ‘memendam kesombongan’ (maka pada Mɑhāvɑstu tentara ke-8 adalah māna); ‘dendam’ (pada Lɑlitɑvistɑrɑkrodhamrakṣa ‘memendam kemurkaan’ — bandingkan bab I-25: 瞋恚); atau ‘kemunafikan’.
    Pɑdhānɑ Suttɑ menambahkan: makkhathambha ‘memendam dan keras kepala’.
  9. Mencari keuntungan 利 (lābha) dan penghargaan 養 (satkāra), serta melekati ketenaran yang salah 著虚妄名聞 (mithyālabdha yaśas)
    Teks kita kekurangan ‘pujian’ (śloka). Juga pada bab I-25: 利養虛稱.
  10. Peninggian diri 自高 (ātmānaṃ utkarṣa) dan memandang rendah orang lain 輕慢於他人 (dhvaṃsayetparāṃ)
    Bab I-25: 自高蔑人.
    Mɑhāvɑstu kurang tentara ke-10 ini.

Maravijaya


Terjemahan selengkapnya disajikan di bawah:

問曰:何處説欲縛等諸結使名魔?
Tanya: Di manakah disebutkan bahwa ikatan nafsu (kāmabandhana) dan belenggu-belenggu (saṃyojana) lainnya dinamakan “māra”?

答曰:《雜藏經》中,佛説偈語魔王:
Jawab: Dalam sebuah sutra di Kṣudraka Piṭaka, Buddha mengucapkan gāthā kepada Raja Māra:

「欲是汝初軍  憂愁軍第二
 飢渇軍第三  愛軍在第四

 “Nafsu adalah tentaramu yang pertama.
 Tentara kedukaan adalah yang kedua.
 Tentara kelaparan dan kehausan adalah yang ketiga.
 Tentara kecintaan menempati yang keempat.

 第五睡眠軍  怖畏軍第六
 疑爲第七軍  含毒軍第八

 Yang kelima, tentara kantuk dan kelesuan.
 Tentara ketakutan adalah yang keenam.
 Keraguan merupakan tentara yang ketujuh.
 Memendam racun adalah yang kedelapan.

 第九軍利養  著虚妄名聞
 第十軍自高  輕慢於他人

 Tentara kesembilan adalah mencari keuntungan dan penghargaan,
 serta melekati ketenaran yang salah.
 Tentara yang kesepuluh adalah peninggian diri
 dan memandang rendah orang lain.

 汝軍等如是  一切世間人
 及諸一切天  無能破之者

 Inilah semua balatentaramu.
 Di seluruh dunia, manusia
 beserta para dewanya,
 tiada yang sanggup menghancurkannya.

 我以智慧箭  修定智慧力
 摧破汝魔軍  如坏瓶沒水

 Dengan anak panah Prajñā
 — berkat kekuatan pengembangan konsentrasi dan kebijaksanaan —
 akan kuhancurleburkan tentaramu, o Māra,
 seperti tembikar mentah (yang belum dibakar) dibenamkan ke air.

 一心修智慧  以度於一切
 我弟子精進  常念修智慧

 Kebijaksanaan Kukembangkan dengan batin terpadu
 demi menyelamatkan semua (makhluk di segala tempat).
 Siswa-siswa-Ku pun akan bersemangat,
 penuh perhatian selalu mengembangkan kebijaksanaan.

 隨順如法行  必得至涅槃
 汝雖不欲放  到汝不到處」

 Melaksanakan praktek sesuai Dharma,
 niscaya mereka dapat mencapai Nirvāṇa.
 Meskipun tak hendak engkau melepaskan mereka,
 akan sampailah mereka ke tempat yang tak dapat kausampai.”

 是時魔王聞  愁憂即滅去
 是魔惡部黨  亦復沒不現

 Tatkala Raja Māra mendengarnya,
 dengan cemas raiblah ia melarikan diri.
 Kawanan anak-buahnya yang jahat
 pun ikut lenyap tak kelihatan.

是名諸結使魔。
Demikianlah segala belenggu dinamakan “māra”.






【Perbandingan Berbagai Versi Paralel:】


Pɑdhānɑ Suttɑ
(Sutta Nipāta, Mahā Vagga)
Lɑlitɑvistɑrɑ
Bab XVIII: “Nairañjanā Parivarta”
Mɑhāvɑstu
2:240
12. Kāmā te paṭhamā senā
dutiyā arati vuccati,
Tatiyā khuppipāsā te
catutthi taṇhā pavuccati.

13. Pañcamaṃ thīnamiddhaṃ te
chaṭṭhā bhīru pavuccati,
Sattamī vicikicchā te
makkho thambho te aṭṭhamo.

14. Lābho siloko sakkāro
micchāladdho ca yo yaso,
Yo cattānaṃ samukkaṃse
pare ca avajānati.

15. Esā namuci te senā
kaṇhassābhippahāriṇī,



Na taṃ asūro jināti
jetvā ca labhate sukhaṃ.

17. Pagāḷhettha na dissanti
eke samaṇabrāhmaṇā.
Tañ ca maggaṃ na jānanti
yena gacchanti subbatā

19. Yan te taṃ nappasahati
senaṃ loko sadevako,
Tan te paññāya bhecchāmi
āmaṃ pattaṃva asmanā.

20. Vasiṃ karitvā saṃkappaṃ
satiñ ca suppatiṭṭhitaṃ,
Raṭṭhā raṭṭhaṃ vicarissaṃ
sāvake vinayaṃ puthu.




21.Te appamattā pahitattā
mama sāsanakārakā,
Akāmassa te gamissanti
yattha gantvāna socare.
17. Kāmāste prathamā senā
dvitīyā aratistathā /
Tr̥tīyā kṣutpipāsā te
tr̥ṣṇā senā caturthikā //

18. Pañcamī styānamiddhaṃ te
bhayaṃ ṣaṣṭī nirucyate /
Saptamī vicikitsā te
krodhamrakṣau tathāṣṭamī //

19. Lobhaślokau ca saṃskārau
mithyālabdhaṃ ca yadyaśaḥ /
Ātmānaṃ yaśca utkarṣed-
yaśca vai dhvaṃsayetparāṃ //

20. Eṣā hi namuceḥ senā
Kr̥ṣṇabandhoḥ pratāpinaḥ /






Atrāvagāḍhā dr̥śyante
ete śramaṇabrāhmaṇāḥ //



21. Yā te senā dharṣayati
lokamenaṃ sadevakam /
Bhetsyāmi prajñayā tāṃ te
āmapātramivāmbunā //


22. Smr̥tiṃ sūpasthitāṃ kr̥tvā


prajñāṃ caiva subhāvitām /
Saṃprajānaṃ cariṣyāmi
kiṃ kariṣyasi durmate //





Kāmā te prathamā senā
dvitīyā ārati vuccati /
Tr̥tīyā kṣutpipāsā ca
caturthī tr̥ṣṇā vuccati //

Paṃcamā styānamiddhaṃ te
ṣaṣṭhī bhīru pravuccati /
Saptamā vicikitsā te
mānārtho bhoti aṣṭamā /

Lobho ti śloko satkāro
mithyālabdho ca yo yaśo //



Eṣā namucino senā
sannaddhā ucchritadhvajā /
Pragāḍhā atra dr̥śyante
eke śramaṇabrāhmaṇāḥ //

Na tām aśūro jayati
jitvā vā anuśocati /








Tāṃ prajñāya te bhetsyāmi
āmapātraṃ va ambunā //

Vaśīkaritvāna te śalyaṃ
kr̥tvā sūpasthitāṃ smr̥taṃ /
Ālabdhavīryo viharanto
vineṣyaṃ śrāvakāṃ pi tu //




Pramādam anuyujanti
bālā durmedhino janā /
Gaṃsāmi te akāmasya
yatra duḥkhaṃ nirudhyati //
25. Tassa sokaparetassa
vīṇā kacchā abhassatha,
Tato so dummano yakkho
tatthevantaradhāyathā ’ti
Evamukte māraḥ pāpīyān duḥkhī durmanā anāttamanā vipratisārī tatraivāntaradhāt / Tasya śokaparītasya
vināśaṃ gacchi ucchriti /
Tataś ca durmano yakṣo
tatraivāntarahāyithā //



REFERENSI:
  1. Dharma Master Chêng Yen, Overcoming the Ten Evil Forces, diterjemahkan oleh Norman Yuan (Taipei: Tzu Chi Buddhist Cultural Center, 1997).
  2. Narada Mahathera, The Buddha and His Teachings, edisi ke-4 (Kuala Lumpur: The Buddhist Missionary Society, 1988), hlm. 27–30.