Rabu, 22 Januari 2020

Maṅgala Varga & Sejarah Penerjemahan Kitab Dharmapada


rikut adalah padanan Maṅgala Sutta, sebuah sutta yang populer dilafalkan sebagai paritta oleh Buddhis Theravādin. Padanan ini dalam Tripiṭaka Tionghoa termuat sebagai bab terakhir Fa-chü ching 《法句經》 alias Dharmapada, yakni bab “Keberuntungan” 〈吉祥品〉 (“Maṅgala Varga”). Penempatan sebagai bab terakhir boleh jadi memang disengaja, mengingat kebiasaan penyusun teks-teks religius India untuk menutup karyanya dengan syair-syair keberuntungan.

Seperti kita ketahui, terdapat kitab-kitab Dharmapada milik mazhab yang berbeda-beda dalam 500-an, 700-an, dan 900-an bait. Dhammapada Pāli merupakan contoh sebuah versi 500-an yang paling populer, meski kekurangannya sangat banyak dan hanya mengandung 423 bait. Contoh lainnya adalah manuskrip yang kini dikenal dengan sebutan Dharmapada Patna. Manuskrip tersebut kelihatan lengkap. Namun, berdasarkan kolofon penutupnya, kitab aslinya seharusnya mengandung 502 bait (gāthā-śatāni pañca dve ca gāthe ).

Fa-chü ching 《法句經》 (‘Kitab Pepatah Dharma’, T. vol. 4, № 210) merupakan sebuah Dharmapada dalam 758 bait. Bentuk awalnya berasal dari teks bawaan Wei-ch’i-nan 維祇難 (*Vighnan? *Vijitananda?) yang diterjemahkan bersama bhikṣu kawan seperjalanannya dari India, Chu Lü-yen 竺律炎 (*Vinayajyoti?, juga dikenal sebagai Chiang-yen 將炎 atau Ch’ih-yen 持炎), sedini tahun 224 M. dengan bantuan Upāsaka Chih Ch’ien 支謙. Ini adalah terjemahan sebuah versi 500-an milik mazhab yang tidak kita ketahui, dalam 26 bab. Barangkali setelah Wei-ch’i-nan meninggal, sepuluh tahun kemudian Lü-yen memperoleh sebuah versi Dharmapada dalam 700-an bait — lagi-lagi tidak diketahui milik mazhab mana — dan menyerahkannya kepada Chih Ch’ien yang memang lebih mahir berbahasa Tionghoa. Dengan memanfaatkan terjemahan versi 500-an yang dikerjakan sebelumnya, Chih Ch’ien lalu menambahkan bait-bait yang kurang ke bab-bab yang telah ada, mentraduksi lagi 13 bab baru, dan mengatur-ulang penomoran agar sesuai dengan urutan dalam versi 700-an tersebut. Demikianlah bentuk final hasil editan Chih Ch’ien menjadi T. № 210 yang kita baca sekarang. Cerita di atas bersumber dari prakata anonim di akhir jilid kesatunya (hlm. 566b–c) yang, dapat kita simpulkan, dituturkan oleh Chih Ch’ien sendiri.

Dharmapada yang diterjemahkan Wei-ch’i-nan dkk. bukanlah yang pertama dalam bahasa Tionghoa. Prakata menyebutkan beredarnya pada saat itu sebuah Dharmapada Tionghoa “transmisi Ko-shih dalam 700-an gāthā” 葛氏傳七百偈. (Ko-shih berarti seseorang yang bermarga Ko. Tetapi, alm. Venerabilis Yin-shun berspekulasi bahwa Ko-shih merupakan transkripsi kuno untuk [mazhab] Kāśyapīya.) Versi ini tidak lestari, telah punah sebagaimana versi-versi lain yang lebih tua — mungkin ada, sebab katalog-katalog menyebutkan, misalnya, sebuah Dharmapada terjemahan An Shih-kao. Sedangkan Dharmapada 900-an, walaupun Chih Ch’ien mengetahui keberadaannya, tampaknya hanya lebih belakangan baru diterjemahkan. Contoh terkenal versi ini ialah kitab Udānavarga Sarvāstivāda, yang dialihkan di penghujung abad IV sebagai Ch’u-yao ching 《出曜經》 (T. № 212) serta di abad X sebagai Fa chi yao-sung ching 《法集要頌經》 (T. № 213).

Fa-chü ching memiliki sebuah kitab komentar,  Fa-chü p’i-yü ching 《法句譬喩經》 (*Dharmapada-avadāna, T. № 211) yang, sama seperti Dhammapada-aṭṭhakathā Pāli, memuat cerita-cerita yang melatarbelakangi bait-baitnya. Teks kita, “Maṅgala Varga”, memiliki latar belakang kebingungan sekelompok 梵志 — istilah ini di sepanjang Fa-chü ching digunakan sebagai terjemahan untuk kata brāhmaṇa — ketika berdiskusi tentang apakah keberuntungan itu sesungguhnya. Guru yang menjadi pemimpin kelompok tersebut dalam kitab Komentar disebut 尼揵梵志 (=nirgrantha brāhmaṇa) — entah apakah perkataan ini berarti ia seorang nirgrantha (penganut Jainisme) ataukah Nirgrantha merupakan nama dirinya sebab hanya ia yang disebut demikian, sedangkan 500 siswanya tidak. Bertindak menjadi interlokutor, mereka kemudian bersama-sama menanyakan masalah keberuntungan ini kepada Buddha, dan Buddha pun membabarkan teks kita. Nasihat-nasihat Buddha seperti: banyak mendengar (=banyak belajar pengetahuan dan keterampilan), mengatur rumah-tangga, menyokong anak dan istri, dll. terdengar lebih relevan dalam teks kita karena disampaikan kepada tokoh interlokutor manusia, dibandingkan dengan Maṅgala Sutta Pāli yang malah dibabarkan kepada dewa!

Alih-alih istilah samar ‘berkah utama’, di sini kita akan menerjemahkan maṅgalam uttamaṃ 最吉祥 dengan ‘keberuntungan tertinggi’. Keberuntungan bukanlah apa yang kita terima — emas, perak, aneka permata, kendaraan mewah, wanita cantik, musik merdu, pemandangan elok dll. (lihat kitab Komentar) — melainkan apa yang dapat kita berikan. Dapat berbakti kepada orangtua adalah keberuntungan, dapat berderma dengan samarata adalah keberuntungan, dapat selalu memberi pelayanan adalah keberuntungan, ... dapat hidup selaras Dharma adalah keberuntungan.




Mangala Sutta in Chinese Canon



吉祥品第三十九
Bab XXXIX
Keberuntungan
十有九章
Ada 19 bait



吉祥品者,修己之術,去惡就善,終厚景福。
Bab “Keberuntungan” berisi tentang seni membina diri — bagaimana dengan menyingkirkan kejahatan dan menghampiri kebaikan pada akhirnya akan mempertebal berkah kesejahteraan.¹

  1. 佛尊過諸天  Kemuliaan Buddha melampaui para dewa;
    如來常現義  Tathāgata senantiasa menampilkan makna.
    有梵志道士  Adalah sekelompok brāhmaṇa² penempuh Jalan³
    來問何吉祥  yang datang menanyakan apakah keberuntungan itu.

  2. 於是佛愍傷  Di sini Buddha tergugah karena belas kasihan,
    為說真有要  dan dibabarkan-Nya esensi dari Kebenaran:
    已信樂正法  “Setelah yakin lalu bergemar akan Saddharma
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  3. 若不從天人  Jika tidak mengikuti [cara-cara] dewa dan manusia
    希望求僥倖  yang berharap-harap mencari kemujuran,
    亦不禱祠神  juga tidak berdoa menyajen kepada roh-roh
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  4. 友賢擇善居  Berteman dengan yang arif, memilih permukiman yang sesuai,
    常先為福德  senantiasa mendahulukan berbuat jasa,
    勅身從真正  mengatur diri setepatnya mengikuti Kebenaran
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  5. 去惡從就善  Menyingkirkan kejahatan, bertolak menghampiri kebaikan,
    避酒知自節  menjauhi minuman keras, mengetahui batasan diri,
    不婬于女色  tidak berahi akan kecabulan
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  6. 多聞如戒行  Banyak mendengar, hidup seturut kesusilaan,
    法律精進學  berlatih Dharma dan Vinaya dengan semangat,
    修己無所爭  membina diri bebas dari pertentangan
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  7. 居孝事父母  Berdiam dalam kebaktian melayani orangtua,
    治家養妻子  mengatur rumah-tangga, menyokong anak dan istri,
    不為空之行  tidak berbuat perilaku yang sia-sia
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  8. 不慢不自大  Tidak sombong, tidak membesarkan diri,
    知足念反復  tahu bercukup dan ingat membalas [budi],
    以時誦習經  melafalkan dan mempelajari sūtra pada waktunya
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  9. 所聞常以忍  Selalu bersabar atas [nasihat] yang didengar,
    樂欲見沙門  gemar beraudiensi dengan para śramaṇa,
    每講輒聽受  setiap pembahasan lantas disimak dan diterima
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  10. 持齋修梵行  Memegang puasa, membina kehidupan kudus,
    常欲見賢聖  senantiasa bergairah mengunjungi para ārya,
    依附明智者  bersandar kepada mereka yang bijaksana
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  11. 以信有道德  Sepenuh keyakinan menuntut kebajikan Jalan,
    正意向無疑  mengarahkan pikiran yang tepat supaya tiada keraguan,
    欲脫三惡道  berhasrat terbebas dari tiga jalur kelahiran rendah
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  12. 等心行布施  Melaksanakan derma dengan batin samarata,
    奉諸得道者  menjunjung mereka yang telah memperoleh Jalan,
    亦敬諸天人  juga menghormati sesama dewa dan manusia
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  13. 常欲離貪欲  Selalu berkehendak menanggalkan pikiran nafsu
    愚癡瞋恚意  keserakahan, kebodohan, dan kebencian;
    能習成道見  membiasakan berpandangan kondusif kepada Jalan
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  14. 若以棄非務  Menghindari kesalahan dalam segala urusan,
    能勤修道用  tekun mengembangkan penerapan Jalan,
    常事於可事  selalu memberi pelayanan kepada yang dapat dilayani
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  15. 一切為天下  Terhadap segala yang di kolong langit,
    建立大慈意  membangun rasa sayang yang agung,
    修仁安眾生  berbelaskasih menenteramkan semua makhluk
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  16. 欲求吉祥福  Barangsiapa ingin mencari berkah keberuntungan,
    當信敬於佛  hendaklah yakin dan menghormati Buddha;
    欲求吉祥福  barangsiapa ingin mencari berkah keberuntungan,
    當聞法句義  hendaklah mendengarkan makna pepatah Dharma;
  17. 欲求吉祥福  barangsiapa ingin mencari berkah keberuntungan,
    當供養眾僧  hendaklah memuja kepada Saṅgha
    戒具清淨者  yang murni dengan kelengkapan Śīla
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.

  18. 智者居世間  Ia yang bijak akan berdiam di dunia
    常習吉祥行  senantiasa mempelajari laku keberuntungan,
    自致成慧見  hingga berhasil mencapai Pemahaman dan Pandangan
    是為最吉祥  — itulah keberuntungan tertinggi.”

  19. 梵志聞佛教  Para brāhmaṇa, mendengar apa yang Buddha ajarkan,
    心中大歡喜  merasa amat bergembira dalam batinnya,
    即前禮佛足  lalu maju menyembah kaki Beliau,
    歸命佛法眾  dan berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Saṅgha.






CATATAN:

¹ Bandingkan etimologi rakyat yang dipaparkan komentator Pāli pada “Maṅgala-sutta Vaṇṇanā”, baik yang termuat dalam komentar Khuddaka Pātha maupun komentar Sutta Nipāta:
Maṅgala disebut demikian karena maṁ galanti imehi sattā ‘melaluinya makhluk-makhluk jatuh ke dalam maṁ’.
(Edisi Chaṭṭa Saṅgāyana, dalam komentar Khuddaka Pātha, menambahkan kata mahanti menjadi: maṁ galanti mahanti imehi sattā ‘melaluinya makhluk-makhluk jatuh dan membesar ke dalam maṁ’.)
Maṁ, yang tidak diketahui artinya, tampaknya berasal dari akar √maṅg ‘pergi, bergerak’ atau malah √maṃh ‘meningkat’, sehingga klausa di atas dapat kita tafsirkan ‘melaluinya makhluk-makhluk jatuh (dan membesar) ke dalam peningkatan’.

Dr. R. L. Soni, dalam bukunya yang terkenal, Life’s Highest Blessings: The Mahā Maṅgala Sutta (terbit pertama kali di Mandalay, 1956; selanjutnya diterbitkan-ulang sebagai seri bersambung The Wheel Publication № 254–256 [Kandy, 1978]), menafsirkan maṁ sebagai ‘keadaan menyedihkan’ (woeful condition) — barangkali ia mengaitkannya dengan kata manyu ‘duka, kesedihan, kekesalan, kemarahan’. Sedangkan ga-la ditafsirkannya ‘mengusir dan memotong’ (driving away and cutting off). Walau ia mengatakan bahwa tafsiran ini berasal dari para komentator Pāli, namun kita tidak bisa menemukan sumbernya dari kitab mana.

² Brāhmaṇa 梵志 — Dalam terjemahan Tionghoanya, tentu saja tidak dapat dipastikan apakah 梵志 merupakan bentuk singularis atau pluralis. Di sini dan di bait 19 kita bisa saja mengartikannya ‘seorang brāhmaṇa’. Kita baru tahu bahwa jumlah yang bertanya plural berkat bantuan kitab Komentar.

³ Penempuh Jalan 道士 — Istilah lama ini (atau variannya 道人) dipergunakan secara lentur sebagai padanan untuk berbagai kata. Ia dapat berarti parivrājaka ‘petapa pengembara’. Apabila ditambahi 異 di depannya, maka 異道士 berarti tīrthika ‘penempuh jalan berbeda/non-Buddhis’. Kadang-kadang ia menjadi terjemahan bagi kata śramaṇa. Tetapi, bentuk ganda 沙門道士 justru berarti ‘śramaṇa dan brāhmaṇa’. Walau kadang digunakan sebagai terjemahan brāhmaṇa, apabila kata majemuk 梵志道士 muncul, tampaknya berarti ‘brāhmaṇa (dan) r̥ṣi’.

Di sepanjang Fa-chü ching kata brāhmaṇa secara berganti-ganti diterjemahkan 梵志 atau 道人. Terjadi kesulitan dalam menafsirkan 梵志道士 pada teks kita (‘seorang brāhmaṇa-r̥ṣi’?), yang sepertinya merujuk pada sang guru seorang (lihat catatan no. 2 tentang masalah singularis atau pluralis). Namun, di sini kita terpaksa mengikuti kitab Komentar dan menafsirkannya ‘sekelompok brāhmaṇa penempuh Jalan’.

Jalan di sini juga sepertinya merujuk jalan non-Buddhis. Namun, Komentar menggambarkan bahwa 500 murid brāhmaṇa tersebut ‘telah berlatih di bawah Buddha-Buddha terdahulu, dan digariskan akan memperoleh Jalan (=Kesucian) di kehidupan sekarang’ (先佛所行,應當得道).

Banyak mendengar 多聞 — Skt. bahuśruta, yakni: banyak belajar. Bandingkan bāhusaccañ (ca sippañ ca) pada Maṅgala Sutta.

Kehidupan kudus 梵行 — Skt. brahmacarya, yakni: hidup sélibat.

⁶ Bait 16–17 tidak terdapat pada kitab Komentar.

Pepatah Dharma 法句 — Skt. dharmapada.

Pemahaman dan Pandangan 慧見 — Yakni: Pemahaman dan Pandangan akan Kebebasan (vimukti-jñāna-darśana), salah satu agregat dari tubuh Dharma beragregat lima. 慧見 merupakan terjemahan lama untuk 知見.

⁹ Lihat juga catatan no. 2. Dalam kitab Komentar edisi Korea, bait 19 dihapuskan; edisi-edisi terbitan Tiongkok masih memuatnya. Bait ini memang menjadi mubazir pada kitab Komentar sebab isinya diulangi kembali berbentuk prosa sesudah itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar